:: Laporan Akhir Praktikum Agroteknologi ::

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM TERPADU

(Dasar Ilmu Tanah, Fisiologi Tumbuhan, dan Pengenalan Jasad Pengganggu Tanaman)

Kelompok 3 :

Rohana                                   (201210200311047)

Fadiel Muhammad                (201210200311056)

Ardo Ilham Doni Baskoro    (201210200311057)

Sadamfan                               (201210200311060)

Dista Yufiana Aris Maya     (201210200311074)

Muchamad Sumanjaya        (201210200311075)

Muhammad Dwi. S               (201210200311077)

 

JURUSAN AGROTEKNOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN-PETERNAKAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

2013

KATA PENGANTAR

 

Puji syukur kehadirat Allah Swt, atas segala rahmat dan karunia-Nya sehigga penulis dapat menyelesaikan Laporan Akhir Praktikum yang meliputi “Dasar Ilmu Tanah, Fisiologi Tumbuhan, dan Pengenalan Jasad Pengganggu Tanaman” Laporan Akhir Praktikum ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas akhir dari praktikum terpadu, pada Jurusan Agroteknologi Fakultas Pertanian-Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang.

Dengan selesainya penulisan laporan akhir praktikum ini tidak lepas dari bantuan serta dukungan dari semua pihak, baik moril ataupun materil sehingga laporan akhir praktikum ini dapat selesai dengan baik dan semoga laporan akhir praktikum ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

            Penulis juga menerima segala kritik dan saran dari semua pihak demi ke- sempurnaan laporan akhir praktikum ini. Jika ada kurang lebihnya penulis mohon maaf.

Malang, Desember 2013

Penyusun

LEMBAR PENGESAHAN

Laporan praktikum terpadu yang meliputi Dasar Ilmu Tanah, Fisiologi Tanaman, dan Pengenalan Jasad Pengganggu Tanaman yang telah dilakukan mulai tanggal 26 September 2013, oleh :

Nama dan nim :

  1. Rohana                              (201210200311047)
  2. Fadiel Muhammad              (201210200311056)
  3. Ardo Ilham Doni Baskoro    (201210200311057)
  4. Sadamfan                           (201210200311060)
  5. Dista Yufiana Aris Maya      (201210200311074)
  6. Muchamad Sumanjaya        (201210200311075)
  7. Muhammad Dwi. S              (201210200311077)

Jurusan : Agroteknologi

Fakultas : Pertanian-Peternakan

Universitas Muhammadiyah Malang

Telah disahkan dan disetujui

Instruktur                                                                             Asisten

(                                   )                                                       (                             )

Nurul Ismayanti, S.P, M.Si                                                           Izfar Anaz

Kepala Lab. Agroteknologi

(                                     )

Dr.Ir. Erny Ishartati, MP.

 

DAFTAR ISI

 

Halaman Judul……………………………………………………………………… i

Kata Pengantar……………………………………………………………………… ii

Lembar Pengesahan………………………………………………………………. iii

Daftar isi……………………………………………………………………………… iv

BAB I. PENDAHULUAN……………………………………………………. 1

1.1 Latar Belakang……………………………………………………… 1

1.2 Tujuan…………………………………………………………………. 3

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA…………………………………………… 7

2.1 Dasar Ilmu Tanah………………………………………………….. 7
2.2 Fisiologi Tanaman…………………………………………………. 12
2.3 Pengenalan Jasad Penggaggu………………………………….. 16

BAB III. METODE KERJA………………………………………………….. 20

3.1 Dasar Ilmu Tanah………………………………………………….. 20

3.2 Fisiologi Tanaman…………………………………………………. 33

3.3 PJPT……………………………………………………………………. 42

BAB IV. HASIL dan PEMBAHASAN………………………………….. 45

4.1 Hasil……………………………………………………………………. 45

4.1.1 DIT………………………………………………………… 45

4.1.2 Fistum…………………………………………………….. 48

4.1.3 PJPT………………………………………………………. 58

4.2 Pembahasan………………………………………………………….. 61

4.2.1 DIT………………………………………………………… 61

4.2.2 Fistum…………………………………………………….. 67

4.2.3 PJPT………………………………………………………. 76

BAB V. KESIMPULAN dan SARAN…………………………………… 85

5.1 DIT……………………………………………………………………… 85

5.2 Fistum………………………………………………………………….. 85

5.3 PJPT……………………………………………………………………. 85

DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………… 86

LAMPIRAN………………………………………………………………………… 88

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1. Latar Belakang

1.1.1.      Dasar Ilmu Tanah

Tanah sudah digunakan orang sejak dahulu karena semua orang yang hidup di permukaan bumi mengenal wujud tanah. Pengertian tanah itu sendiri bermacam-macam, akan tetapi karena luas penyebarannya apa sebenarnya yang dimaksud tanah, akan ditemui bermacam-macam jawaban atau bahkan orang akan bingung untuk menjawabnya. Masing-masing jawaban akan dipengaruhi oleh pengetahuan dan minat orang yang menjawab dalam sangkut-pautnya dengan tanah. Mungkin pengertian tanah antara orang yang satu dengan yang lain berbeda. Misalnya seorang ahli kimia akan memberi jawaban berlainan dengan seorang ahli fisika, dengan demikian seorang petani akan memberi jawaban lain dengan seorang pembuat genteng atau batubata. Pada mulanya orang menganggap tanah sebagai medium alam bagi tumbuhnya vegetasi yang terdapat di permukaan bumi atau bentuk organik dan anorganik yang di tumbuhi tumbuhan, baik yang tetap maupun sementara.

Semua makhluk hidup sangat tergantung dengan tanah, sebaliknya suatu tanah pertanian yang baik ditentukan juga oleh sejauh mana manusia itu cukup terampil mengolahnya. Tanah merupakan sumber daya alam yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan dan kesejahteraan manusia. Tanah dapat digunakan untuk medium tumbuh tanaman yang mampu menghasilkan berbagai macam makanan dan keperluan lainnya. Maka dari berbagai macam tanah beserta macam-macam tujuan penggunaannya itu perlu dilakukan suatu pembelajaran lebih lanjut mengenai tanah agar kita benar-benar memahami tanah itu sendiri.

1.1.2.      Fisiologi Tanaman

Salah satu cabang ilmu biologi adalah fisiologi yang terbagi menjadi fisiologi hewan dan fisiologi tumbuhan. Fisiologi tumbuhan sendiri adalah cabang disiplin ilmu biologi yang mempelajari tentang aktivitas hidup yang dilakukan oleh tumbuhan (sel, jaringan, organ, sistem organ) dan tentang apa yang terjadi pada tumbuhan tersebut dalam pemeliharaan, pengaturan, dan pelestarian kehidupannya juga mempelajari tentang respon tumbuhan terhadap perubahan lngkungan serta pertumbuhan dan perkembangannya akibat adanya respon tersebut. Dengan kata lain fisiologi mempelajari proses hidup yang terjadi pada makhluk hidup dalam kaitannya dengan fisika, kimia, maupun matematika.

Fisiologi tumbuhan merupakan ilmu yang berhubungan dengan proses, fungsi, dan respon tumbuhan terhadap perubahan lingkungan, serta pertumbuhan dan perkembangan akibat adanya respon tersebut. Maksud dari “proses” dalam pengertian di atas adalah urutan kejadian-kejadian yang alamiah. Contoh proses yang terjadi didalam tubuh tumbuhan hidup yaitu fotosintetsis, respirasi, absorpsi ion, translokasi enzim, pembungaan, dan pembentukan biji. Maksud “fungsi” dalam pengertian diatas adalah aktivitas alamiah dari sebuah benda, apakah termasuk senyawa kimia, sel, dan jaringan organ. Maksud dari “respon” dalam pengertian diatas adalah kegiatan tumbuhan yang diakibatkan adanya proses dan fungsi yang berlangsung didalam tubuh tumbuhan hidup dan dipengaruhi oleh faktor lingkungan sekitar misalnya difusi dan osmosis.

1.1.3.      Pengenalan Jasad Pengganggu Tanaman

Hampir seluruh atau sebagian besar daerah di Indonesia merupakan daerah pertanian atau biasa disebut sebagai daerah agraris, dan hapir sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai petani, akan teapi sebagian besar dari petani tidak mengerti dan mengetahui secara menyeluruh tentang ilmu pertanian, mereka hanya mengetahui ilmu yang mereka dapat dari nenek moyang mereka, masalah yang paling sering ditemui oleh para petani adalah masalah organisme pengganggu tanaman terutama hama dari jenis serangga, hama dari jenis serangga ini menyerang tanaman dengan cara yang berbeda, gejala yang ditimbulkanpun berbeda. Cara dan gejala serangan yang ditimbulkan hama tergantung dari ordonya. Meskipun sama-sama dari kelompok hama tetapi gejala yang di timbulkan berbeda, masalnya hama pemakan jika gejala gigitannya halus maka hama yang menyerang adalah hama dari ordo coleopteran, tetapi jika gejala gigitannya bergerigi maka yang menyerang adalah hama dari ordo ortoptera. Oleh sebab itu pengenalan jasad pengganggu tanaman sangatlah diperlukan bagi para petani khususnya, supaya dapat mengetahui cara pengendaliannya.

1.2.      Tujuan

Tujuan dari praktikum ini adalah

1.2.1.      Dasar Ilmu Tanah

  1. Morfologi Tanah

Untuk mengetahui proses – proses yang terjadi pada pembentukan dan perkembangan tanah di lapangan.

  1. Sifat Fisik Tanah

Kadar Air / Lengas Tanah

Untuk mengetahui berbagai kondisi kadar lengas tanah dan metode pengukuran perhitungannya.

  1. Tekstur Tanah

Mengetahui kelas teksturntanah dan metode pengukurannya baik secar kualitatif di lapang maupun kuantitatif di laboratorium.

  1. Stuktur Tanah

Untuk mengetahui metode pengukuran struktur tanah di lapang maupun di laboratorium.

  1. Konsistensi Tanah

Untuk mengetahui metode pengukuran dan perhitungan konsistensi tanah di lapang maupun di laboratorium.

  1. Berat Volume

Untuk mengetahui metode pengukuran berat tanah dan kebutuhan pupuk.

  1. Berat Jenis

Untuk mengetahaui metode pengukuran berat jenis tanah.

  1. Porositas Tanah

Untuk mengetahui metode perhitungan porositas total pada tanah.

  1. Kekuatan Mekanik / Daya Topang Tanah

Untuk mengetahui daya topang pada tanah pada saat di lapang.

  1. Kapilaritas Tanah

Untuk mengetahui metode pengukuran dan perhitungan kapilaritas tanah di laboratorium.

  1. Divusivitas

Untuk mengetahui metode pengukuran dan perhitungan divusivitas tanah di laboratorium.

  1. Permeabilitas Tanah

Untuk mengetahui metode pengukuran dan perhitungan permeabilitas tanah jenuh di laboratorium.

  1. Sifat Kimia Tanah

Reaksi (pH) Tanah

Untuk mengetahui metode pengukuran pH actual dan Ph potensial

  1. Reaksi Reduksi – Oksidasi (redoks) Tanah

Untuk mengetahui metode pengukuran redoks tanah secara kualitatif di lapang.

  1. Kapasitas Tukar Kation

Untuk mengetahui metode pengukuran kapasitas tukar kation secara kualitatif dan kuantitatif di laboratorium.

  1. Kandunagan Kapur (CaCO3) Tanah

Untuk mengetahui beberapa sifat kimia tanah dan cara pengamatannya di pangan dan di laboratorium.

  1. Sifat Biologi Tanah
  2. Kandungan Bahan Organik Tanah

Untuk mengetahui sifat – sifat biologi tanah dan cara penetapannya di lapangan / di laboratorium melalui penetapan kadar karbon, bahan organic, dan nilai kematangan fisik tanah.

1.2.2.      Fisiologi Tumbuhan

  1. Difusi-Osmosis dan Penyerapan Zat

Untuk menentukan fakta mengenai gejala difusi dan osmosis, mengamati efek konsentrasi larutan terhadap kecepatan difusi, arah gerakan air pada peristiwa difusi-osmosis.

  1. Hubungan Air, Jaringan dan Tanah

Untuk mengetahui tanah mengikat air dan gerak kapilaritas air pada beberapa tekstur tanah.

  1. Resistensi Difusi Gas dan Transpirasi

Untuk mengetahui peranan resistensi stomata dan lapis batas terhadap difusiii uap air, agar meningkatkan pemahaman akan fotosintesis sebagai fungsi dari difusi oksigen masuk ke daun.

  1. Fotosintesis dan Klorofil
    1. Untuk mengamati apakah cahaya dibutuhkan dalam fotosintesis pada daun.
    2. Untuk mengetahui hubunagan intensitas cahaya dengan laju fotosintesis.
    3. Untuk mengetahui pengaruh penambahan substrat dengan lau fotosintesis.
    4. Untuk mempelajari absorsi cahaya oleh pigmen klorofil a dan b.
  2. Respirasi dan Pertumbuhan

Untuk mengetahui nilai RQ beberapa jenis kecambah.

  1. Fitohormon (zat pengatur tubuh)
    1. Untuk mengetahui efek IAA pada gejala apical dominan.
    2. Untuk mengetahui efek NAA dan IBA pada pertumbuhan akar.

1.2.3.      Pengenalan Jasad Pengganggu Tanaman

  1. Gejala / Tanda Tanaman Terserang Hama dan Pathogen

Untuk mengenali beberapa gejala dan tanda 0 tanda dari bagian tanaman yang terserang oleh hama, serta praktikan dapat mengenali dan mengetahui beberapa macam kerusakan yang disebabkan oleh hama atau pathogen sehingga dapat di jadikan dasar dalam teknik pengendaliannya.

  1. Hama Gejala / Tanda Tanaman Terserang

Untuk mengenali beberapa gejala dan tanda – tanda  dari bagian tanaman yang terserang oleh hama, dan diharapkan praktikan dapat mengenali  dan mengetahui beberapa macam kerusakan yang disebabkan oleh hama atau pathogen sehingga dapat dijadikan dasar dalam teknik pengendaliannnya.

  1. Pemantauan Ekosistem dan Sebaran Populasi Hama

Dapat mengetahui status serangga yang hidup di suatu arel sehingga dapat menentukan jaringan – jarring kehidupan.

Untuk dapat mengetahui sebaran hama sehingga dapat menentukan langkah pengendalian.

  1. Epidemiologi Penyakit Tanaman

Dapat mendugan ledakan penyakit dari pengamatn populasi pathogen sebelumnya.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

2.1.Dasar Ilmu Tanah

2.1.1. Morfologi Tanah

Tanah merupakan bahan padat (mineral atau organik) yang terletak dipermukaan bumi, yang telah dan sedang serta terus mengalami perubahan yang dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti bahan induk, iklim, organisme, topografi, dan waktu (Dokuchaev, 1870). Sifat morfologi tanah adalah sifat-sifat yang dapat diamati dan dipelajari dilapang. Sebagian sifat dari morfologi tanah merupakan sifat-sifat fisik dari tanah tersebut (Sarwono, 2010).

Sifat morfologi tanah adalah sifat tanah yang dapat diamati di lapang yang menunjukkan profil tanah ke arah dalam, seperti horizon tanah, struktur tanah, tekstur tanah, konsistensi tanah, warna tanah dan kedalaman efektif tanah yang dapat ditembus oleh akar. Pengamatan sifat-sifat tanah sangatlah penting untuk mengetahui gambaran umum tentang lahan pertanian dan tanah sebagai penyuplai serta penyedia air dan nutrisi bagi pertumbuhan tanaman disamping menambah penge-tahuan ilmu tanah itu sendiri (Soepraptohardjo, 1983).

2.1.2. Sifat Fisik Tanah

Sifat-sifat tanah bervariasi menurut tempat dan waktu, yang dapat disebabkan oleh hasil akhir dari proses yang terjadi secara internal atau alami dan pengaruh dari luar, misalnya intervensi manusia. Proses yang sifatnya internal berkaitan dengan faktor-faktor geologi, hidrologi, dan biologi yang dapat mempengaruhi pembentukan tanah (Irsal, 2006).

Tekstur Tanah memilik hubungan dengan Daya Menahan Air dan Ketersediaan Hara dalam tanah. Tanah bertekstur liat mempunyai luas permukaan yasng lebih besar sehingga kemampuan menahan air dan menyediakan unsur hara tinggi. Tanah bertekstur halus lebih aktif dalam reaksi kimia daripada tanah bertekstur kasar. Tanah bertekstur pasir mempunyai luas permukaan yang lebih kecil sehingga sulit menyerap (menahan) air dan unsur hara ( Madjid, 2009 ).

Struktur tanah merupakan sifat fisik tanah yang menggambarkan susunan ruangan partikel-partikel tanah yang bergabung satu dengan yang lain membentuk agregat dari hasil proses pedogenesis. Struktur tanah berhubungan dengan cara dimana partikel pasir, debu, dan liat relatif disusun satu sama lain. Di dalam tanah dengan struktur yang baik, partikel pasir dan debu dipegang bersama pada agregat-agregat (gumpalan kecil) oleh liat humus dan kalsium. Ruang kosong yang besar antara agregat (makroform) membentuk sirkulasi air dan udara, juga akar tanaman untuk tumbuh ke bawah tanah yang lebih dalam. Sedangkan ruangan kosong yang kecil (mikroform) memegang air untuk kebutuhan tanaman. Idealnya bahwa struktur disebut granular (Hadi, 1982).

2.1.3. Sifat Kimia Tanah

Reaksi tanah yang penting adalah masam, netral atau alkalin. Hal tersebut didasarkan pada jumlah ion H+ dan OH- dalam larutan tanah. Reaksi tanah yang menunjukkan sifat kemasaman atau alkalinitas tanah dinilai berdasarkan konsentrasi H+ dan dinyatakan dengan nilai pH. Bila dalam tanah ditemukan ion H+ lebih banyak dari OH-, maka disebut masam (pH <7). Bila ion H+ sama dengan ion OH- maka disebut netral (pH=7), dan bila ion OH- lebih banyak dari pada ion H+ maka disebut alkalin atau basa (pH >7) (Hakim dkk,1986). Pengukuran pH tanah dapat memberikan keterangan tentang kebutuhan kapur, respon tanah terhadap pemupukan, proses kimia yang mungkin berlangsung dalam proses pembentukan tanah, dan lain-lain (Hardjowigeno, 2003).

Nilai pH berkisar dari 0-14 dengan pH 7 disebut netral sedangkan pH kurang dari 7 disebut masam dan pH lebih dari 7 disebut alkalis. Walaupun demikian pH tanah umumnya berkisar dari 3,0-9,0. Di Indonesia pada umumnya tanah bereaksi masam dengan pH berkisar antara 4,0 – 5,5 sehingga tanah dengan pH 6,0 – 6,5 sering telah dikatakan cukup netral meskipun sebenarnya masih agak masam. Di daerah rawa-rawa sering ditemukan tanah-tanah sangat masam dengan pH kurang dari 3,0 yang disebut tanah sangat masam karena banyak mengandung asam sulfat. Di daerah yang sangat kering kadang-kadang pH tanah sangat tinggi (pH lebih dari 9,0) karena banyak mengandung garam Na (Winaryai, 1991). Menurut Hakim (1986) faktor yang mempengaruhi pH antara lain : Kejenuhan basa, sifat misel (koloid), macam kation yang terserap.

Suatu redoks dapat terjadi apabila suatu pengoksidasi bercampur dengan zat yang tereduksi. Dalam persamaan reaksi redoks tingkat oksidasi sama dengan tingkat reduksi yaitu jumlah electron yang hilang oleh zat pereduksi harus sama dengan jumlah electron yang diterima oleh suatu zat pengoksidasi (Chang, 2005).

Kapasitas Tukar Kation (KTK) suatu tanah dapat didefinisikan sebagai suatu kemampuan koloid tanah menjerap dan mempertukarkan kation (Hakim, 1986). Sedangkan menurut Hasibuan (2006), Kapasitas Tukar Kation merupakan banyaknya kation-kation yang dijerap atau dilepaskan dari permukaan koloid liat atau humus dalam miliekuivalen per 100 g contoh tanah atau humus.Dalam buku hasil penelitian (Bagus, 1991), disebutkan bahwa satu miliekuivalen atau satu mili setara adalah sama dengan satu milligram hidrogen atau sejumlah ion lain yang dapat bereaksi atau menggantikan ion hidrogen tesebut pada misel. Walaupun demikian kadang-kadang USDA bagian survey tanah menggunakan sebagai me/100 g liat. Akan tetapi pada umumnya penentuan KTK adalah untuk semua kation yang dapat dipertukarkan, sehingga KTK = jumlah atau total mili ekuivalen kation yang dapat dipertukarkan per 100 gram tanah (Tan 1982).

Kapasitas tukar kation (KTK) merupakan sifat kimia yang sangat erat hubungannya dengan kesuburan tanah. Tanah-tanah dengan kandungan bahan organik atau kadar liat tinggi mempunyai KTK lebih tinggi daripada tanah-tanah dengan kandungan bahan organik rendah atau tanah-tanah berpasir (Hardjowogeno 2007).

Tanah berkapur terlalu tinggi pH basanya dan hal ini menggangu pertumbuhan organisme baik itu tanaman maupun hewan. Dengan minimnya tumbuhan, maka tempat tersebut menjadi kering dan tidak mampu menhan curah hujan (Singer dan Munns, 1997). Adanya kandungan kapur (CaCO3) bebas dalam tanah dapat diketahui denga menentukan asam klorida 10% (HCl 2N). Adanya percikan menandakan adanya kapur bebas, makin banyak percikannya maka makin banyak kandungan kapur dalam tanah. Reaksinya dituliskan sebagai beriuku (Anonim, 2008). CaCO3+2HCl à CaCl2+H2O+CO2

2.1.4 Sifat Biologi Tanah

Bahan Organik merupakan bahan-bahan yang dapat diperbaharui, di daur ulang, dirombak oleh bakteri-bakteri tanah menjadi unsur yang dapat digunakan oleh tanaman tanpa mencemari tanah dan air. Bahan organik tanah merupakan penimbunan dari sisa-sisa tanaman dan binatang yang sebagian telah mengalami pelapukan dan pembentukan kembali. Bahan organik berada dalam pelapukan aktif dan menjadi mangsa serangan jasad mikro. Sebagai akibatnya bahan tersebut berubah terus dan tidak mantap sehingga  harus selalu diperbaharui melalui penambahan sisa-sisa tanaman atau binatang  (Utami dan Handayani, 2004).

Sumber primer bahan organik adalah jaringan tanaman berupa akar, batang.ranting dan buah. Bahan organik dihasilkan oleh tumbuhan melalui proses fotosintesis sehingga unsur karbon merupakan penyusun utama dari bahan organik tersebut. Unsur karbon ini berada dalam bentuk senyawa-senyawa polisakarida seperti selulosa, hemi-selulosa, pati dan bahan-bahan pectin dan lignin. Selain itu nitrogen merupakan unsur yang paling banyak terakumulasi dalam bahan organik karena merupakan unsur yang paling penting dalam mikroba yang terlibat dalam proses perombakan bahan organik tanah. Jaringan tanaman ini akan mengalami dekomposisi dan terangkul ke lapisan bawah (Sutanto, 2002).

Tanah adalah produk transformasi mineral dan bahan organik yang terletak dipermukaan sampai kedalaman tertentu yang dipengaruhi oleh faktor-faktor genetis dan lingkungan, yakni bahan induk, iklim, organisme hidup (mikro dan makro), topografi, dan waktu yang berjalan selama kurun waktu yang sangat panjang, yang dapat dibedakan dari cirri-ciri bahan induk asalnya baik secara fisik kimia, biologi, maupun morfologinya (Winarso, 2005). Bahan organik tanah berpengaruh terhadap sifat-sifat kimia, fisik, maupun biologi tanah.Fungsi bahan organik di dalam tanah sangat banyak, baik terhadap sifat fisik, kimia maupun biologi tanah, antara lain sebagai berikut (Stevenson, 1994).

  1. Berpengaruh langsung maupun tidak langsung terhadap ketersediaan hara. Bahan organik secara langsung merupakan sumber hara N, P, S, unsur mikro maupun unsur hara esensial lainnya. Secara tidak langsung bahan organik membantu menyediakan unsur hara N melalui fiksasi N2dengan cara menyediakan energi bagi bakteri penambat N2, membebaskan fosfat yang difiksasi secara kimiawi maupun biologi dan menyebabkan pengkhelatanunsur mikro sehingga tidak mudah hilang dari zona perakaran.
  2. Membentuk agregat tanah yang lebih baik dan memantapkan agregat yang telah terbentuk sehingga aerasi, permeabilitas dan infiltrasi menjadi lebih baik. Akibatnya adalah daya tahan tanah terhadap erosi akan meningkat.
  3. Meningkatkan retensi air yang dibutuhkan bagi pertumbuhan tanaman.
  4. Meningkatkan retensi unsur hara melalui peningkatan muatan di dalam tanah.
  5. Mengimmobilisasi senyawa antropogenik maupun logam berat yang masuk kedalam tanah
  6. Meningkatkan kapasitas sangga tanah
  7. Meningkatkan suhu tanah
  8. Mensuplai energi bagi organisme tanah
  9. .Meningkatkan organisme saprofit dan menekan organisme parasit bagi tanaman.

 2.2. Fisiologi Tanaman

2.2.1. Difusi-Osmosis dan Penyerapan Zat

Difusi adalah perpindahan molekul-molekul dari konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah baik melalui membrane plasma ataupun tidak. Molekul dan ion yang terlarut dalam air bergerak secara acak dengan konstan. Gerakan ini mendorong terjadinya difusi (Saktiono, 1989).

Osmosis adalah difusi melalui membran semipermeabel. Masuknya larutan ke dalam sel-sel endodermis merupakan contoh proses osmosis. Dalam tubuh organisme multiseluler, air bergera dari satu sel ke sel lainnya dengan leluasa. Selain air, molekul-molekul yang berukuran kecil seperti O2 dan CO2 juga mudah melewati membran sel. Molekul-molekul tersebut akan berdifusi dari daerah dengan konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah. Proses Osmosis akan berhenti jika konsentrasi zat di kedua sisi membran tersebut telah mencapai keseimbangan (Saifudin, 2009).

Dalam mengambil zat-zat nutrisi yang penting dan mengeluarkan zat-zat yang tidak diperlukan, sel melakukan berbagai jenis aktivitas, dan salah satunya adalah difusi. Ada dua jenis difusi yang dilakukan, yaitu difusi biasa dan difusi khusus. Difusi biasa terjadi ketika sel ingin mengambil nutrisi atau molekul yang hydrophobic atau tidak berpolar / berkutub. Difusi khusus terjadi ketika sel ingin mengambil nutrisi atau molekul yang hydrophilic atau berpolar dan ion. Difusi seperti ini memerlukan protein khusus yang memberikan jalur kepada partikel-partikel tersebut ataupun membantu dalam perpindahan partikel. Hal ini dilakukan karena partikel-partikel tersebut tidak dapat melewati membran plasma dengan mudah (Uwie, 2010).

2.2.2. Hubungan Air, Jaringan, dan Tanah

Molekul-molekul air ditarik oleh dinding tabung oleh gaya adhesi dan bergerak naik.  Gaya kohesi antara molekul-molekul air juga menyebabkan air yang tidak berkontak dengan dinding tabung naik.  Tinggi naiknya air dalam tabung sama dengan beratnya untuk mengimbangi gaya-gaya adhesi dan kohesi. Gaya kapilar juga bekerja untuk semua tanah basah.  Tetapi, kecepatan dan ketinggian naiknya air lebih lambat dalam pori tanah, karena pori tanah tidak lurus dan tidak seragam. Belum lagi adanya udara yang terperangkap dalam pori yang menyebabkan lambatnya gerakan kapilar (Mustamidin, 2011).

Nilai efek kapilaritas tidak beraturan pada setiap bagian tanah, karena ukuran pori-pori yang dilewatinya bersifat acak pula. Pada jenis tanah yang berbeda akan memberikan pola pergerakan air tanah yang berbeda pula karena pola pergerakan air tanah yang berupa gerak kapiler ini sangat dipengaruhi oleh tekstur dari tanah tersebut, oleh karena itu kecepatan pergerakan air vertikal ke bawah dan pergerakan horizontal di dalam tanah bergerak agak cepat sampai agak lambat (Craig, 1991).

Jumlah air yang bergerak melalui tanah berkaitan dengan ukuran pori-pori pada tanah. Air tambahan berikutnya akan bergerak ke bawah melalui proses penggerakan air jenuh. Penggerakan air tidak hanya terjadi secara vertikal tetapi juga horizontal. Gaya gravitasi tidak berpengaruh terhadap penggerakan horizontal (Hakim, 1986).

2.2.3 Resistensi Difusi Gas dan Transpirasi

Transpirasi dapat diartikan sebagai proses kehilangan air dalam bentuk uap dari jaringan tumbuhan melalui stomata, kemungkinan kehilangan air dari jaringan tanaman melalui bagian tanaman yang lain dapat saja terjadi, tetapi porsi kehilangan tersebut sangat kecil dibandingkan dengan yang hilang melalui stomata.  Cepat lambatnya proses transpirasi ditentukan oleh faktor-faktor yang mampu merubah wujud air sebagai cairan ke wujud air sebagai uap atau gas dan faktor-faktor yang mampu menyebabkan pergerakan uap atau gas.  Faktor-faktor tersebut meliputi suhu, cahaya, kelembaban udara, dan angin.  Di samping itu luas permukaan jaringan epidermis atau luka tempat proses Transpirasi berlangsung juga ikut berperan (Wahyudi, 2009).

Sebagian besar uap air yang di transpirasi oleh tumbuhan tingkat tinggi berasal dari daun selain dari batang, bunga dan buah.  Lubang stomata yang tidak bundar melainkan oval itu juga berpengaruh terhadap intensitas pengeluaran air, yang mana jika lubang-lubang itu terlalu berdekatan maka penguapan dari lubang yang satu akan menghambat penguapan dari lubang yang yang lain yang saling berdekatan (Ahmad, 2009).

Sebagian besar proses transpirasi pada tanaman lewat stomata, stomata bagian terbesar berada pada permukaan bawah daun yang memungkinkan terjadinya pertukaran gas antara yang ada dalam jaringan daun dan di udara.  Lubang stomata ini merupakan jalan utama untuk transpirasi, mengingat epidermis bawah dan atas dilapisi oleh lilin sebagai lapisan kutikula yang mengandung bahan lemak dan merupakan penghalang untuk transpirasi    (Misbah, 2007).

Tahapan terhadap difusi yang menembus stomata berbanding terbalik terhadap diameter celah stomata karena fungsi stomata paling penting untuk memasukkan co2 ke dalam mesofil daun. Periode stomata terbuka biasanya bersamaan dengan keadaan merangsang fotosintesis, stomata cencerung membuka jika konsentrasi co2 dalam rongga sub stomata januh di bawah sub suatu tingkat yang kritis (Fitten, 1998).

2.2.4. Fotosintesis dan Klorofil

Cahaya mutlak di butuhkan sebagai energy penggerak fotosintesis, namun demikian tingkat kebutuhan antar kelompok tumbuhan akan berbeda. Tidak apada setiap kondisi meningkatnya intensitas akan diikuti atau menyebabkan meningkatnya laju fotosintesis (Frack dan Cleon, 1995).

Membuka dan menutupnya stomata penting bagi proses asimilasi CO2 dan juga keseimbangan air dalam tanaman. Membuka menutupnya stomata tergantung pada perubahan turgor sel penjaga (sel stomata).  Turgor yang tinggi menyebabkan stomata membuka sebaliknya turgor yang rendah akan menyebabkan stomata menutup (Salisbury dan Ross, 1995).

Stomata berasal dari  bahasa Yunani yaitu Stoma yang berarti  lubang atau porus, jadi stomata adalah lubang-lubang kecil berbentuk lonjong yang dikelilingi oleh dua sel epidermis khusus yang disebut sel penutup (Guard Cell), dimana sel penutup tersebut adalah sel-sel epidermis yang telah mengalami kejadian perubahan bentuk dan fungsi yang dapat mengatur besarnya lubang-lubang yang ada diantaranya (Dalimunthe, 2004).

2.2.5 Respirasi dan Pertumbuhan

Perkecambahan diawali dengan penyerapan air dari lingkungan sekitar biji, baik tanah, udara, maupun media lainnya.  Perubahan yang teramati adalah membesarnya ukuran biji yang disebut tahap imbibisi.  Biji menyerap air dari lingkungan sekelilingnya, baik dari tanah maupun udara (dalam bentuk embun atau uap air).  Efek yang terjadi adalah membesarnya ukuran biji karena sel embrio membesar dan biji melunak (Anonymous, 2009).

Bahan organic sumber energy pada biki bervariasi, ada biji lebih banyak menyimpan reserve dama bentuk amulim da nada yang lebih banyak berupa timbunan lemak ataupun protein, karena itu jumlah oksigen yang dibutuhkan atau jumlah co2 yang di keluarkan sebagi sisa metabolism akan berbeda satu dengan lainnya (Saidatul idiyah, 2003).

2.2.6 Fitohormon (Zat Pengatur Tubuh)

Konsentrasi yanh tinggi pada bagian bawah akar menghambat pemanjangan sel, sedangkan konsentrasi IAA diperoleh atas mendorong pemanjangan sel. Hasil akhir kedua pengaruh ini membengkok ke bawah (Heddy, 1989).

Domonasi pertumbuhan terdapat dibagian apeks atau ujung organ yang disebut sebagia dominasi apical. Domonasi apical diartikan sebagi persaingan anatara tunas pucuk dengan tunas lateral dalam hal pertumbuhan. Sedangkan menurut dominasi apical merupakan konsentrasi pertumbuhan pada ujung tunas tumbuhan, dimanapun kuncup terminal secara persial menghambat pertumbuhan kuncup aksilar (Dartius, 1991).

Zat pengatur tumbuh adalah senyawa organic kompleks alami yang di sintesis oleh tanaman tingkat tinggi, yang berpengaruh pada pertumbuhan dan perkembangan tanaman.  Dalam kultur jaringan, ada dua golongan zat pengatur tumbuh yang sangat penting adalah sitokinin dan auksin. Zat pengatur tumbuh ini mempengaruhi pertumbuhan dan morfogenesis dalam kultur sel, jaringan dan organ. Interaksi dan perimbangan antara zat pengatur tumbuh yang diberikan dalam media dan yang diproduksi oleh sel secara endogen, menentukan arah perkembangan suatu kultur. Penambahan auksin atau sitokinin eksogen, mengubah level zat pengatur tumbuh endogen sel. Level zat pengatur tumbuh endogen ini kemudian merupakan trigerring factor untuk proses-proses yang tumbuh dan morfogenesis (Taji, dkk. 2002).

2.2. Pengenalan Jasad Pengganggu Tanaman

2.3.1. Gejala /Tanda Tanaman Terserang Hama dan Patogen

Hama adalah organisme yang dianggap merugikan dan tak diinginkan dalam kegiatan sehari-hari manusia. Walaupun dapat digunakan untuk semua organisme, dalam praktik istilah ini paling sering dipakai hanya kepada hewan. Suatu hewan juga dapat disebut hama jika menyebabkan kerusakan pada ekosistem alami atau menjadi agen penyebaran penyakit dalam habitat manusia. Contohnya adalah organisme yang menjadi vektor penyakit bagi manusia, seperti tikus dan lalat yang membawa berbagai wabah, atau nyamuk yang menjadi vektor malaria. Dalam pertanian, hama adalah organisme pengganggu tanaman yang menimbulkan kerusakan secara fisik, dan ke dalamnya praktis adalah semua hewan yang menyebabkan kerugian dalam pertanian (Sujino, 2013).

Menurut Tjitrosoepomo (1989) dalam Siswanto dan Trisawa (2001), setiap jenis tanaman/tumbuhan memiliki daya tarik yang berbeda terhadap serangga. Serangga umumnya datang mengunjungi bunga karena tertarik oleh bau atau warna untuk mendapatkan makanan. Bunga adalah bagian tumbuhan yang paling menarik bagi serangga karena bau dan warnanya dan mendapatkanmakanannya, namun seringkali mempunyai bentuk khas, sehingga serangga yang mampu memanfaatkan hanya jenis tertentu saja.

Menurut Thamrin (2002), Di lahan pasang surut ditemukan beberapa jenis hama potensial pada tanaman sayuran seperti hama perusak daun (ulat grayak, ulat jengkal, ulat pengorok daun serata hama perusak buah yaitu lalat buah). Melaporkan bahwa ditemukan beberapa jenis hama sayuran seperti pada tanaman sawi adalah ulat grayak (Spodoptera litura), ulat plutela (Plutela xylostella), penggerek pucuk (Crocidolomia binotlid) pada tanaman timun adalah kutu daun (Aphid gossypii), lalat buah(Dacus cucurbitae), ulat buah (Diaphania indica). Pada tanaman paria adalah kutu daun(Aphid sp.), tungau (Trips sp.), lalat buah (Dacus sp), kumbang daun (Aulocophorasimiles), ulat grayak (Spodoptera sp), ulat jengkal (Chrysodeixis chalcites) dan lalat buah(Dacus sp). Tingkat kerusakan dari hama utama tersebut cukup bervariasi antara 10- 25%. Ledakan hama (Diaphania indica), pada tanaman paria ulat pemakan daging buah dilahan rawa pasang surut dengan tingkat kerusakan dapat mencapai 80-100%. Jenis lalat (Agromyzidae Diptera) yang menyerang dengan mengkorok daun danbersifat folifag, yang diketahui dapat menyerang lebih dari 70 jenis tanaman di seluruh dunia. Tanaman inangnya termasuk famili Leguminoseae (Kalshoven, 1981).

2.3.2. Hama Gejala/Tanda Tanaman Terserang

Ulat daun D. indica merupakan salah satu hama serius pada pertanaman mentimun di Asia dan Afrika. Ulat ini juga menyerang mentimun di Indonesia (Asikin 2004). Larva ulat berwarna hijau gelap dengan dua garis putih sepanjang tubuh (Brown 2003).

Pada daun terdapat bercak dimulai dari tulang daun, yang kemudian meluas dan menjadi bercak berwarna kecoklatan, berbentuk bersudut atau agak bulat. Beberapa bercak dapat bersatu menjadi hawar dan dapat menyebabkan matinya seluruh daun gejala bercak dapat meluas ke batang, tangkai dan buah. Bila udara lembab, di tengah bercak terbentuk massa spora berwarna merah (Semangun 1989).

Gejala yang ditimbulkan oleh penyakit busuk daun/embun bulu adalah pada permukaan atas daun terdapat bercak-bercak kuning, terkadang agak bersudut karena dibatasi oleh tulang daun. Pada cuaca lembab pada sisi bagian bawah bercak terdapat miselium menyerupai bulu berwarna keunguan. Gejala lanjut dari penyakit ini dapat mengakibatkan daun menjadi busuk, mengering dan mati (Semangun 1989).

2.3.3. Pemantauan Ekosistem  dan Sebaran Populasi Hama

Ekosistem sendiri tidaklah bersifat statis melainkan selalu mengalami perubahan keseimbangan lingkungan adalah salah satu faktor yang dapat mengganggu keseimbangan alam. Pencemaran lingkungan disebabkan oleh bahan polutan yang berasal dari beberapa sumber (Totok, 2007). Semua organisme memerlukan energi untuk pertumbuhan, pemeliharaan, reproduksi, dan pada beberapa spesies, untuk lokomosi. Sebagian besar produsen primer menggunakan energi cahaya untuk mensintesis molekul organic yang kaya energi, yang selanjutnya dapat dirombak untuk membuat ATP Konsumen mendapatkan bahan bakar organiknya dari tangan kedua (atau bahkan tangan ketiga atau tangan keempat) melalui jaring-jaring makanan. Dengan demikian, keadaan aktivitas fotosintetik menentukan batas pengeluaran bagi pengaturan energi keseluruhan ekosistem.

Fakta bahwa ekosistem alamiah umumnya kelihatan hijau, ekosistem tersebut mengandung banyak sekali tumbuh-tumhuhan yang menandakan bahwa banyak produktivitas primer bersih tidak diubah dalam jahgka pendek menjadi produktivitas sekunder (Sumarji, 2006).                                Populasi merupakan sekelompok organisma dari spesies yang sama yang menempati suatu ruang tertentu, dan mampu melakukan persilangan diantaranya dengan menghasilkan keturunan yang fertil. Dengan demikian hubungan antara organisme satu dengan organisme lainnya dalam populasi dapat melalui dua jalan yaitu hubungan genetika dan hubungan ekologi.

2.3.4. Epidemiologi Penyakit Tanaman

Bercak daun yang E. urophylla menyebabkan kerusakan jaringan daun atau defolasi (pengangguran daun) sehingga proses fotosintesis akan menurun, karena luas permukaan daun yang berfotosintesis menjadi berkurang (Angrios, 1998).

Jenis pathogen yang menyebabkan bercak daun adalah jenis fungi dengan hifa bersekat. Hasil penyimpanan contoh daun contoh daun yang terserang penyakit dalam kelembapan diperoleh dalam bintik–bintik coklat tua agak kehitaman yang merupakan tubuh buah fungi, bintik–bintik tersebut diamati secara mikroskopis merupakan tubuh buah yang bentuknya agak membulat dengan lubang pengeluaran yang disebut ostiole (Ngatman, 2006).

Epidemiologi penyakit tanaman adalah studi tentang penyakit pada populasi tanaman. Sama seperti penyakit manusia dan hewan, penyakit tanaman terjadi karena patogen seperti bakteri, virus, jamur, Oomycetes, nematoda, phytoplasmas, protozoa, dan tanaman parasit (Arneson, 2001).

BAB III

METODE KERJA

 

3.1  Dasar Ilmu Tanah

 

3.1.1. Morfologi Tanah

  1. Alat

Alat yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah meteran dan buku Munsell Soil Colour Chart.

  1. Bahan

Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah tanah.

  1. Cara Kerja

Mengamati secara langsung kenampakan- kenampakan yang terdapat pada profil tanah.

3.1.2. Sifat Fisik Tanah

Kadar Lengas Tanah Kering Angin (KL)

  1. Alat

Alat yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah botol timbang, timbangan,dan oven.

  1. Bahan

Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah tanah kering yang diayak dan kertas label.

  1. Cara Kerja
    1. Menyiapkan alat dan bahan.
    2. Menimbang botol timbang dengan timbangan dan mencatat beratnya.
    3. Memberikan label pada botol timbang yang kosong tersebut (KL).
    4. Memasukkan tanah kering yang telah diayak kedalam botol timbang KL + separuh botol dan ditutup, kemudian menimbangnya dan mencatatnya.
    5. Memasukkan botol timbang KL yang telah ditimbang ke dalam oven pengeringan dengan tutup terbuka pada suhu konstan selama 4 jam.
    6. Mengeluarkan botol timbang dari dalam oven, kemudian menimbang dan mencatat hasilnya.
    7. Menghitung hasil melalui rumus.

Kadar Lengas Kapasitas Lapang (KLP)

  1. Alat

Alat yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah botol timbang, timbangan, saringan kawat, nampan, beaker glass 500 ml, dan oven.

  1. Bahan

Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah tanah kering yang diayak, air dan kertas label.

  1. Cara Kerja
    1. Menyiapkan alat dan bahan.
    2. Menimbang botol timbang dengan timbangan dan mencatat beratnya.
    3. Memberikan label pada botol timbang yang kosong tersebut (KLP).
    4. Memasukkan tanah kering yang telah diayak kedalam saringan kawat yang diletakkan diatas nampan.
    5. Memasukkan air secukupnya sampai air tersebut meresap ketanah melalui permukaan tanah secara perlahan sampai jenuh.
    6. Memindahkan keranjang kawat yang berisi tanah tersebut ke tempat lain, yang kemudian disaring diatas erlenmeyer semalam.
    7. Mengambil tanah yang diatuskan semalaman yang dimasukkan kedalam botol KLP, kemudian menimbangnya.
    8. Memasukkan tanah yang telah ditimbang kedalam oven selama 4 jam.
    9. Mencatat beratnya setelah di oven dan menghitung hasil melalui rumus.
    10. 1.      Tekstur Tanah

Secara Kualitatif

  1. Alat

Alat yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah palet

  1. Bahan

Bahan yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah  tanah halus dan air

  1. Cara Kerja

1)   Menyiapkan alat dan bahan

2)   Meletakkan tanah halus di atas palet

3)   Mencampur tanah dengan air.

4)   Merasakan tekstur tanah dengan jari.

5)   Mencatat kesamaan tekstur yang dirasakan dengan buku literatur/buku praktikum.

Secara Kuantitatif

  1. Alat

Alat yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah botol timbang, timbangan, erlenmeyer, hot plate, gelas ukur, dan oven.

  1. Bahan

Bahan yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah tanah kering yang diayak, aquades, H2O2, HCL, NaOH, dan oven.

  1. Cara Kerja

1)        Menyiapkan alat dan bahan

2)        Menimbang botol timbang dengan timbangan dan mencatat beratnya.

3)        Mengambil bongkahan tanah kemudian menimbang dengan ukuran < 2mm, 10 gram.

4)        Memasukkan tanah yang telah ditimbang ke dalam gelas erlenmeyer dengan menambahkan air sebanyak 50 ml serta H2O2 30% sebanyak 25 ml.

5)        Menunggu percikan reaksi mereda, setelah mereda panaskan pada hot plate (panas sedang) kurang lebih 1 jam barulah mendinginkan larutan tersebut dengan cara mendiamkan semalaman.

6)        Memasukkan larutan HCL 25 ml, setelah larutan di diamkan semalaman, kemudian aduk hingga homogen dan diamkan selama 20 menit.

7)        Menambahkan larutan NaOH 25 ml aduk hingga homogen dan diamkan lagi selama 20 menit.

8)        Memasukkan hasil campuran tadi ke dalam gelas ukur dan jadikan volumenya 1000 ml, kemudian aduk sebanyak 15 kali hingga homogen.

9)        Melakukan pemipetan I (debu dan liat total) dengan ukuran 20 cm, setalah 2 jam melakukan pemipetan II (liat total) dengan cara yang sama namun ukuran berbeda yakni 5 cm.

10)    Meletakkan kedua sampel tersebut pada botol timbang dan di oven selama 1 malam dengan suhu 105oC.

11)    Menentukan berat endapan dan menghitungnya dengan rumus.

  1. 2.      Struktur Tanah
    1. Alat

Alat yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah timbangan, dan palet.

  1. Bahan

Bahan yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah bongkahan tanah, alkohol, dan aquades.

  1. Cara Kerja

1)   Menyiapkan alat dan bahan.

2)   Memasukkan bongkahan tanah dengan ukuran yang sama ke dalam palet.

3)   Memberikan alkohol pada 3 bongkaha tanah dengan masing-masing konsentrasi alkohol yaitu 30%, 70%, dan 96%. Sedangkan untuk bongkahan tanah yang terakhir hanya diberi aquades.

4)   Merendam bongkahan tanah selama 1-2 menit, sedangkan untuk liat selama 5-10 menit.

5)   Mengamati kematangan agregatnya dengan melihat tabel pengamatan pada diktat hal.16.

  1. 3.      Batas Cair Tanah (BC)
    1. Alat

Alat yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah botol timbang, timbangan, mortal martil, alat Cassagrande, dan oven.

  1. Bahan

Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah tanah kering yang diayak, air dan kertas label.

  1. Cara Kerja

1)   Menyiapkan alat dan bahan.

2)   Menimbang botol timbang dengan timbangan dan mencatat beratnya.

3)   Memberikan label pada botol timbang yang kosong tersebut (BC).

4)   Mencampurkan tanah kering dengan air sedikit demi sedikit sehingga diperoleh pasta tanah yang homogen dalam mortal martil.

5)   Meletakkan tanah tersebut diatas cawan Alat Cassagrande dengan ketebalan + 1 cm.

6)   Menentukan ketukan saat tanah telah menutup yaitu 10, 30, dan 40, ketukan dengan waktu 2 kali/detik.

7)   Memasukkan tanah tersebut kedalam botol timbang.

8)   Memasukkan tanah yang telah ditimbang kedalam oven selama 4 jam.

9)   Mencatat beratnya setelah di oven dan menghitung hasil melalui rumus.

  1. 4.      Batas Lekat Tanah (BL)
    1. Alat

Alat yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah botol timbang, timbangan, colet, mortal martil, dan oven.

  1. Bahan

Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah tanah kering yang diayak, air dan kertas label.

  1. Cara Kerja

1)   Menyiapkan alat dan bahan.

2)   Menimbang botol timbang dengan timbangan dan mencatat beratnya.

3)   Memberikan label pada botol timbang yang kosong tersebut (BL).

4)   Mencampurkan tanah kering dengan air sedikit demi sedikit sehingga diperoleh pasta tanah yang homogen dalam mortal martil.

5)   Menggumpalkan tanah dengan tangan, kemudian menusukkan colet ke dalam gumpalan tersebut.

6)   Mengamati permukaan colet apakah ada tanah yang melekat, jika ada yang melekat seperti gumpalan kecil maka tanah dinyatakan jadi.

7)   Memasukkan tanah tersebut ke dalam botol timbang BL dan menimbangnya.

8)   Memasukkan tanah yang telah ditimbang kedalam oven selama 4 jam.

9)   Mencatat beratnya setelah di oven dan menghitung hasil melalui rumus.

  1. 5.      Batas Gulung Tanah (BG)
    1. Alat

Alat yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah botol timbang, timbangan, mortal martil, penggaris, dan oven.

  1. Bahan

Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah tanah kering yang diayak, air dan kertas label.

  1. Cara Kerja

1)   Menyiapkan alat dan bahan

2)   Menimbang botol timbang dengan timbangan dan mencatat beratnya.

3)   Memberikan label pada botol timbang yang kosong tersebut (BG).

4)   Mencampurkan tanah kering dengan air sedikit demi sedikit sehingga diperoleh pasta tanah yang homogen dalam mortal martil.

5)   Menggulung tanah tersebut dengan ketebalan 3mm baru retak/hancur.

6)   Memasukkan tanah ke dalam botol timbang BG dan menimbangnya.

7)   Memasukkan tanah yang telah ditimbang ke dalam oven selama 4 jam.

8)   Mencatat beratnya setelah di oven dan menghitung hasil melalui rumus.

  1. 6.      Batas Berubah Warna Tanah (BBW)
    1. Alat

Alat yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah botol timbang, timbangan, mortal martil, alas pemotong (talenan), colet, dan oven.

  1. Bahan

Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah tanah kering yang diayak, air dan kertas label.

  1. Cara Kerja

1)   Menyiapkan alat dan bahan.

2)   Menimbang botol timbang dengan timbangan dan mencatat beratnya.

3)   Memberikan label pada botol timbang yang kosong tersebut (BBW).

4)   Mencampurkan tanah kering dengan air sedikit demi sedikit sehingga diperoleh pasta tanah yang homogen dalam mortal martil.

5)   Mengambil sebagian tanah tersebut dan diratakan setipis mungkin dari tengah ke tepi pada alas pemotong (talenan).

6)   Mendiamkan tanah tersebut di tempat teduh jauh dari sumber panas langsung hingga kering, kemudian mengeriknya dengan colet.

7)   Memasukkan tanah tersebut ke dalam botol timbang dan menimbangnya.

8)   Memasukkan tanah yang telah ditimbang ke dalam oven selama 4 jam.

9)   Mencatat beratnya setelah di oven dan menghitung hasil melalui rumus.

  1. 7.      Berat Volume Tanah
    1. Alat

Alat yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah timbangan, tali/benang.

  1. Bahan

Bahan yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah bongkahan tanah, cairan lilin yang sudah dipanaskan.

  1. Cara Kerja

1)   Menyiapkan alat dan bahan.

2)   Mengambil bongkahan tanah kemudian menimbangnya dengan massa M gram.

3)   Mengikat bongkahan tanah tersebut dengan tali.

4)   Mencelupkan bongakahan tanah ke dalam cairan lilin (lilin yang sudah dipanaskan) dengan suhu 60oC dengan volume awal dapat ditulis sebagai patokan, kemudian setelah dicelupkan akan di dapatkan hasil volume akhir.

  1. 8.      Berat Jenis Tanah
    1. Alat

Alat yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah timbangan, picnometer, termometer.

  1. Bahan

Bahan yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah air, dan tanah yang telah diayak.

  1. Cara Kerja

1)   Menyiapkan alat dan bahan.

2)   Menimbang picnometer kosong (a gr).

3)   Mengisi picnometer denan air (sampai penuh) kemudian menimbangnya.

4)   Mengisi picnometer dengan air setengah tanah >2 mm sebanyak 5 gram, lalu aduk hingga homogen.

5)   Mendinginkan dan diamkan selama 5 menit.

6)   Mengisi dengan air sampai penuh dan menimbangnya (b gram) dengan mengukur suhunya.

3.1.3. Sifat Kimia Tanah

  1. 1.      Reaksi (PH) Tanah
    1. Alat

Alat yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah tabung reaksi, ph stick, timbangan, dan gelas ukur.

  1. Bahan

Bahan yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah aquades, tanah yang telah diayak.

  1. Cara Kerja

1)      Menyiapkan alat dan bahan.

2)      Menimbang tanah halus dengan timbangan sebanyak 5 gram.

3)      Memasukkan tanah pada tabung reaksi.

4)      Menambahkan aquades hingga volume 12,5 ml.

5)      Mengocok campuran tanah dan aquades tersebut.

6)      Mendiamkan larutan tersebut selama 10 menit.

7)      Mengukur Ph potensialnya dengan menggunakan PH stick.

  1. 2.      Redoks Tanah
    1. Alat

Alat yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah kertas saring.

  1. Bahan

Bahan yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah bongkahan tanah, HCL 10%, KCNS 10%, dan K3Fe (CN) 0,5 %.

  1. Cara Kerja

1)   Menyiapkan alat dan bahan.

2)   Mengambil bongkahan tanah an meletakkannya diatas kertas saring.

3)   Menetesi 2 bongkahan tanah tersebut dengan larutah HCL 10%.

4)   Melipat kertas saring dengan menekan bongkahan tanah tersebut sampai menyisakan bercak tanah.

5)   Menetesi bercak tanah yang tertempel pada kertas saring dengan larutan KCNS 10% untuk bercak tanah A dan larutan K3Fe (CN) 0,5% untuk bercak tanah B.

6)   Mengamati perubahan warna yang terjadi pada bercak tanah tersebut.

7)   Menentukan redoks tanah tersebut.

  1. 3.      Kapasitas Tukar Kation (KTK)
    1. Alat

Alat yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah tabung reaksi, dan kertas saring.

  1. Bahan

Bahan yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah tanah yang telah diayak, larutan GV (gention / methyl violet), larutan ER (eosin red).

  1. Cara Kerja

1)   Menyiapkan alat dan bahan.

2)   Memasukkan tanah halus ke dalam tabung reaksi.

3)   Menambahkan larutan gention/methyl violet (GV) dengan tinggi 5 cm dan larutan eosin red (ER) pada tiap-tiap tabung reaksi.

4)   Mengocok hasil larutan tersebut selama 2 menit kemudian mendiamkannya.

5)   Mengambil filtrat dan meneteskannya pada kertas saring.

6)   Mengamati perubahan warna yang terjadi.

  1. 4.      Kandungan Kapur (CaCO3) Tanah

Secara Kualitatif

  1. Alat

Alat yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah palet.

  1. Bahan

Bahan yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah bongkahan tanah, dan larutan HCL 10%.

  1. Cara Kerja

1)   Menyiapkan alat dan bahan.

2)   Meletakkan bongkahan tanah pada palet.

3)   Menetesi bongkahan tanah dengan larutan HCL 10%

4)   Mengamati percikan yang ditimbulkan.

Secara Kuantitatif

  1. Alat

Alat yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah tabung calsimeter, hot plate, dan timbangan.

  1. Bahan

Bahan yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah tanah yang telah diayak, dan larutan HCL 2 N

  1. Cara Kerja

1)   Menyiapkan alat dan bahan.

2)   Menimbang tabung calsimeter dalam keadaan kosong (a gram) dengan timbangan.

3)   Memasukkan tanah halus ke dalam calsimeter sebanyak 5 gram.

4)   Menimbangnya lagi (b gram) dengan timbangan.

5)   Menambahkan larutan HCL 2 N, lalu menimbang larutan tersebut.

6)   Mengalirkan larutan HCL.

7)   Memanaskan sebentar, lalu di dinginkan.

8)   Menimbang lagi (d gram), lalu dimasukkan dalam rumus.

3.1.2        Sifat Biologi Tanah

  1. 1.      Kandungan Bahan Organik Tanah

Secara Kualitatif

  1. Alat

Alat yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah palet.

  1. Bahan

Bahan yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah bongkahan tanah, larutan H2SO2 30%.

  1. Cara Kerja

1)   Menyiapkan alat dan bahan.

2)   Mengambil bongkahan tanah segar dari tiap horison.

3)   Meletakkan ke dalam palet dan ditetesi dengan larutan H2SO2 30%.

4)   Mengamati percikan gas yang keluar diantara bongkahan.

5)   Melihat klasifikasinya pada buku panduan.

Secara Kuantitatif

  1. Alat

Alat yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah gelas arloji, labu takar, pipet ukur, gelas ukur, label, timbangan, dan erlenmeyer.

  1. Bahan

Bahan yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah tanah yang telah diayak, larutan K2Cr2O7 1 N, larutan H2SO4 pekat, indikator dyphenylamine, aquades, dan larutan FeSO4.

  1. Cara Kerja

1)        Menyiapkan alat dan bahan.

2)        Menimbang sampel tanah kering 1 gram, dan memasukkannya ke dalam gelas arloji bersih serta kering, kemudian memasukkan ke dalam labu takar 50 ml.

3)        Menambahkan 10 ml larutan K2Cr2O7 1 N dengan menggunakan pipet ukur.

4)        Menambahkan 10 ml larutan H2SO4 pekat dengan gelas ukur.

5)        Mengocok bahan mendatar dan memutar.

6)        Memberikan blangko, setelah larutan dingin 30 menit.

7)        Menambahkan 1 indikator dyphenylamine.

8)        Menjadikan volume hingga 50 ml dengan menambahkan aquades.

9)        Membolak-balikan sampai kondisi homogen dan biarkan mengendap.

10)    Menambahkan aquades 15 ml dengan pipet ukur.

11)    Menitrasi dengan larutan FeSO4 hinggan warnanya menjadi kehijau-hijauan.

12)    Mengulanginya lagi untuk blangko selanjutnya.

13)    Menghitung % BO dengan rumus.

  1. 2.      Kematangan Fisik Tanah
    1. Alat

Alat yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah erlenmeyer.

  1. Bahan

Bahan yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah tanah yang telah diayak.

  1. Cara Kerja
  2. Menyiapkan alat dan bahan.
  3. Mengambil segenggam tanah segar lapang.
  4. Memeras tanah sampai terbentuk pasta.
  5. Mengamati pasta yang keluar diantara sela-sela jari tangan.
  6. Menentukan klasifikasi nilai N tingkat kematangan fisik tanah.

3.2 Fisiologi anaman

3.2.1 Difusi – Osmosis dan Penyebaran Zat

3.2.1.1 Difusi – osmosis

1. Alat dan Bahan

A. Alat

Alat-alat yang digunakan antara lain : Cawan petri, Pelubang gabus, dan Pipa kaca berskala.

B. Bahan

Bahan yang digunakan antara lain : Gula tebu atau sukrosa, Kentang atau wortel, dan aquades.

2. Cara Kerja

2.1 Mengukur Potensial Osmotic dan Potensial Air Jaringan :

  1. Menyiapkan seri larutan gula : 25 %, 50%, dan 100%. Menganggap larutan jenuh 100%.
  2. Membuat potongan wortel / kentang dalambentuk kubus dengan sisi 3 cm, sebanyak 3 potong.
  3. Pada bidang atas sayatan, membuat dua lubang dengan pelubang gabus dengan kedalaman 2 cm (ukuran lubang disesuaikan dengan pipa kaca yang akan digunakan). Gunakan jarum preparat untuk mengangkat jaringan kentang setelah di bor dengan pelubang gabus.
  4. Memasukkan pipa kaca berskala ke dalam lubang yang telah disiapkan. Usahakan jangan sampai bocor.
  5. Pada salah satu lubang dari ketiga potongan kentang, memasukkan larutan gula secara berturutan 25%, 50%, dan 100%, sampai batas skala 0,5 cm daripermukaan pipa.pada satu lubang yang lain, memasukkan aquades sampai pada batas skala nyang sama sebagai kontrolnya
  6. Mengamati perubahan atau pertambahan volume air pada semua pipa kaca  tersebut setiap 6 jam.
  7. Membuat grafik hubungan antara konsentrasi larutan gula dengan pertambahan volume cairan dalam pipa kaca.

3.2.1.2 Mengukur Potensial Osmotic dan Potensial Air Jaringan

1. Alat dan Bahan

A. Alat

Alat yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah Cutter, Pelubang gabus 0,6 cm, Botol vial 50 ml, dan Penggaris

B. Bahan

Bahan yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah Umbi kentang dan Wortel.

2. Cara Kerja

  1. Membuat silinder umbi kentang ukuran 4 cm sebanyak 20 buah dengan menggunakan pelubang gabus.
  2. Memasukkan 4 potong silinder kentang ke dalam seri larutan sukrosa 30 ml : 0,0 ; 0,4 ; 0,8 ; 1,2 ; 1,6 ; 2,0 M.
  3. Mengerkakan dengan cepat untuk memperkecil terjadinya penguapan dari [ermukaan silinder kentang.
  4. Menutup rapat botol tersebut dan biarkan selama 40 menit.
  5. Mengambil dan mengukur panjang potongan – potongan kentang tadi.

3.2.1.3 Mengukur Potensial Osmotic dan Potensial Air Jaringan.

1. Alat dan Bahan.

  1. Alat

Alat yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah Petridish, Botol timbang, Kertas saring, Oven, Timbangan analitis, dan Pelubang gabus.

  1. Bahan

Bahan  yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah Aquades, Tanaman yang selalu cukup air, dan Tanaman yang kekurangan air / layu.

2. Cara Kerja

  1. Menyiapkan dua kelompok. Satu kelompok tanaman yang selalu kecukupan air, dan satu kelompok tanaman dengan keadaan agak layu (kurang air)
  2. Menyiapkan 10 buah potongan daun yang di buat dengan pelubang gabus , 1 cm ke dalam botol timbang
  3. Mengukur berat segar (BS) 10 potong daun dari kedua kelompok tanaman tersebut sebagai BS -1 dan ( BS = berat total – berat botol ) dengan timbangan analitis. Menimbang berat potongan daun dari tanaman kurang air.
  4. Menempatkan ke dua kelompok potongan daun tersebut dalam cawan petri yang berisi air selama 3 ja, di bawah penerangan lampi neon ( kurang lebih 25 lumen ).
  5. Meniriskan potongan daun dengan tissue (kertas hisap)  memasukkan ke dalam botol timbang, kemudian mengukur berat segar dari ke dua kelompok tumbuhan tersebut sebagai berat turgid (BT) . BT -1 = berat turgid potongan daun kelompok tumbuhan cukup air, BT-2 = berat turgid dari potongan daun kelompok tumbuhan kurang air.
  6. Mengeringkan keduan kelompok potongan daun itu dalam oven atau low incubator pada suhu 70 – 80 derajat celcius. Selanjutnya menimbang berat kering (BK, sebagai BK-1 dan BK-2)

3.2.2 Hubungan Air Jaringan Tanah

3.2.2.1 Kemampuan Tanah Mengikat Air dan Gerak Kapilaritas Air

1. Alat dan Bahan

A. Alat

Alat yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah Pipa gelas berdiameter 5 cm, panjang 60 cm 3 buah, Beker gelas 3 buah, Kain kasa, dan Statif dan klem.

  1. Bahan

Bahan yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah Tanah tekstur liat dan tanah tekstur lempung.

2. Cara Kerja

  1. Mengerinhgkan kedua kelompok tanah tersebut sampai tidak mengandung air.
  2. Menyumbat slah satu ujung pipa kaca dengan kain kasa (sebagai alas).
  3. Memasukkan sampel tanah ke dalam pipa sampai 2/3 bagian.
  4. Menegakkan pipa dengan statif dan memasukkan alas pipa tersebut dalam beker gelas yang telah di disi air setinggi 5 cm.
  5. Mengamati perambatan air dam ke dua pipa gelas dari menit ke menit. Mengamati pada pipa maka yang airnya paling cepat merambat.
  6. Mengukur tinggi kenaikan air tiap 5 menit selama 30 menit.
  7. Memasukkan data hasil pengamatn ke dalam tabel.

3.2.3 Resistensi Difusi Gas dan Transpirasi

3.2.3.1 Resistensi Stomata Daun dan Lapis Batas Terhadao Difusi Oksigen

1. Alat dan Bahan

A. Alat

Alat yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah Kertas saring whatmann n0 42, Pipet dan gelas ukur,Timbangan dan thermometer, dan Kertas tissue

B. Bahan

Bahan  yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah Daun jeruk / kacang kedelai / kacang tanah / kacang panjang, dan air bebas ion.

2. Cara Kerja

  1. Menyiapkan beberapa helai daun jeruk, kacang yang masih segar dan utuh serta menentukan luasnya.
  2. Membuat replica daun yang akan di amati dari kertas whatmann.
  3. Merendam daun dalam air bebas ion selama 30 – 60 menit (sampai daun jenuh), dan mengeringkan permukaan daun dengan kertas tissue.
  4. Membasahi kertas replica dengan air bebas ion dan mengeringkan permukaan dengan kertas tissue.

3.2.4 Fotosintesin dan Klorofil

3.2.4.1 Pengaruh Cahaya pada Proses Fotosintesis

1. Alat dan Bahan

A. Alat

Alat yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah Beker gelas 500 ml, Beker gelas 250 ml, Pinset, Pemanas, dan Penjapit.

B. Bahan

Bahan yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah Daun tanaman, Aquades, Yod KI, Kertas timah, dan Alcohol 96 %.

2. Cara Kerja

  1. Pada malam hati sebelum praktikum, menutup sebagian daun yang sehat dengan kertas timah, dan penjapit dengan sebuah klip.
  2. Setelah tercegah cahaya selama 2-3 jam, memetik daun tersebut, lalu memasukka dalam air mendidih selama beberapa saat (5 menit). Kemudian memindahkan daun itu ke dalam beker gelas yang berisi 100-150 ml alcohol.
  3. Memanaskan alcohol berisi daun itu dalam air mendidih. Menghentikan pemanasan jika daun sudah berwarnaq putih, kemudian meniriskan.
  4. Menetesi permukaan daun dengan ligol (yod-KI). Menagamati warna permukaan daun anatara bagian daun yang tertuptup dan terbuka, menentukan bagian mana yang paling gelab.

3.2.4.2 Pengaruh Intensitas Cahaya Terhadap Laju Fotosintesis

1. Alat dan Bahan

A. Alat

Alat yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah Beker gelas 1 liter, Tabung reaksi, dan Corong.

B. Bahan

Bahan yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah Tanaman hydrila, Air / aquades, dan Kawat.

2. Cara Kerja

  1. Merakit alat dan bahan seperti pada gambar (membuat 2 rakit)
  2. Menempatkan satu rakit di tempat terkene cahaya langsung dan merakit lainnya di dalam ruang
  3. Membiarkan selama 20 menit. Kemudian mengamati ada – tidaknya gelembung di dalam tabung reaksi itu. Jika semuanya ada. Membandingkan pada rakitan yang mana lebih banyak menghasilkan gelembung – gelembung gas.

3.2.4.3 Pengaruh Substrat co2 terhadap Laju Fotosintesis

1. Alat dan Bahan

A. Alat

Alat yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah Beker gelas 1 liter, Tabung reaksi, dan Corong.

B. Bahan

Bahan yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah Tanaman hydrila, Air / aquades, Kawat, dan KHCO3 atau NaHCO3

2. Cara Kerja

  1. Menyiapkan dua unit percobaan fotosintesis pada praktikum sebelumnya : 1 unit control dan 1 unit percobaan.
  2. Menambahkan 10 ml NaHCO3 1 % ke dalam unit percobaannya.
  3. Menempatkan dua unit percobaan itu di tempay terkena cahaya matahari secara langsung.
  4. Mengamati gelembung yang dihasilkan setiap 20 menit.

3.2.4.4 Fungsi Pigmen Mengabsorsi Cahaya pada Panjang Gelombang Tertentu.

1. alat dan bahan.

a. alat

Alat yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah Beker gelas 500 dan 250 ml, Mortar dan corong, Spektrifotometer dan cuvet, Kertas saring W 42 dan pemanas.

b. bahan

Bahan yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah Etanol 96 %

Daun hijau segar, sehat, lunak.

2. cara kerja

  1. Menyiapkan daun tanaman yang sudah tumbug sempurna, sehat segar dan lunak.
  2. Menimbangb2 gram daun kemudian mengekstrak / merebus dengan mortar.
  3. Dari hasil gerusan tadi menambahkan 10 ml pelarut etanol 96 %.
  4. Mengambil filtratnya 1 ml, menambahkan pelarut hingga 10 ml.
  5. Mengukur larutan pigmen tersebut dengan menggunakan spektrofotometer pada panjang gelombang 649 dan 665.
  6. Mencatat absorbansinya pada masing – masing panjang gelombang.

3.2.5 respirasi dan pertumbuhan

3.2.5.1 memahami respiratory quotient (RQ) beberapa kecambah.

1 alat dan bahan.

  1. a.  Alat

Alat yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah Erlenmeyer, Pipet ukur, Tabung vial kecil, Tabung reksi kecil, Karet sumbat.

  1. Bahan

Bahan yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah Kecambah kedelai, kecambah kacang panjang, dan kecambah kacang tanah, KOH dan HCL, BaCl2, Indikator PP, dan Eosin

2. cara kerja

  1. Menyiapkan 2 unit perangkat seperti pada gambar.
  2. Melakukan pengukuran larutan eosin secara berkala setiap 5 menit.
  3. Menghitung gas yang di hasilkan dan gas yang dikonsumsi.
  4. Menghitung nilai RQ.
  5. Membuat grafik hubungan antara CO2 dan O2.

3.3.6 Fitohormon.

3.3.6.1 pengaruh hormone auxin terhadap peristiwa apical dominan

1 alat dan bahan

  1. Alat

Alat yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah Erlenmeyer besar dan Tabung kecil.

  1. Bahan

Bahan yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah Tanaman kacang merah (phaseolus vulgaris) dan Larutan IAA dalam lanolin (0,1 dan 0,5 %)

2. cara kerja

  1. Menyiapkan 3 polibag dan menam 6 – 8 biji kacanag merah / kacang buncis.
  2. Memilih 3 tanaman kacanag yang homogeny dari sejumlah biji ynag tumbuh.
  3. Membuat perlakuan sebagai berikut :
    1. Tanaman pada pot 1 membiarkan tumbuh normal.
    2. Tanaman pada pot 2, memotong bagian pucuk tanaman, kemudian di olesi batang bekas potongan dengan lanolin.
    3. Tanaman pada pot 3, memotong bagian pucuk batangnya, dan mengoleso dengan IAA dalam lanolin (0,1 atau 0,5 %).
    4. Meletakkan tanaman di green house dan menyiram secukupnya.
    5. Mengamati pertumbuhan tunas ketiak setelah 2 minggu.

3.3.6.2 respon akar terhadap perlakuan hormone.

1 alat dan bahan

  1. a.  Alat

Alat yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah Pisau tajam dan Cawan petry.

b. Bahan

Bahan yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah Batang begonia dan Hormone tumbuhan : NAA, IBA

2. cara kerja

  1. Membuat 15 potongan batang begonia 5 cm.
  2. Merendam masing – masing 5 potongan dalam : 1 ) air, 2) 5 ppm NAA, 3). 5 ppm IBA.
  3. Membiarkan perendaman selama 24 jam
  4. Memindahkan potongan tersebut ke dalam pot pasir yang berpupuk dan membiarkan selama 4 minggu.
  5. Menghitung jumlah tunas dan akar yang tumbuh dari setiap stek batnag begonia tersebut.

3.3. Pengenalan Jasad Pengganggu Tanaman

                 3.3.1 Gejala / Tanda Tanaman Terserang Hama dan Patogen

  1. Alat

Alat yang digunakan dalam  praktikum  ini adalah kertas dan bolpoin.

  1. Bahan

Bahan yang diperlukan  antara  lain tanaman salam.

  1. Metode kerja

a)      Melihat bagian tanaman yang mengalami kerusakan

b)      Memperhatikan dengan seksama kerusakan atau gejala / tanda-tanda yang disebabkan oleh hama dan patogen

c)      Menggambar sesuai dengan bentuk yang sebenarnya pada lembar kerja

d)     Memberikan keterangan dan membuat bahasan

3.3.2   Hama Gejala atau Tanda Tanaman Terserang

  1. Alat

Alat yang digunakan dalam  praktikum  ini adalah kertas dan bolpoin.

  1. Bahan

Bahan yang diperlukan dalam praktikum ini adalah tanaman kacang panjang, tamanaman timun dan tanaman jeruk.

  1. Metode kerja

a)      Melihat bagian tanaman yang mengalami kerusakan

b)      Memperhatikan dengan seksama kerusakan atau gejala / tanda-tanda yang ada pada tamnaman

c)      Menggambar sesuai dengan bentuk yang sebenarnya pada lembar kerja

d)     Memberikan keterangan dan membuat bahasan

3.3.3   Pemantauan Ekosistem dan Sebaran Populasi Hama

  1. Alat

Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah bolpoin dan kertas

  1. Bahan

Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah hama yang terdapat pada suatu tanaman

  1. Metode kerja

a)      Mementukan areal yang akan di pantau ekosistemnya dan memantau sebran hamanya

b)      Memilih sample atau lokasi tanaman yang akan diamati secara acak

c)      Mengamati jenis serangga, jumlah dari masing-masing organisme yang berinteraksi dengan tanaman pokok dan sebarannya

d)     Menentukan status dari masing-masing organisme

e)      Menulis dalam table

3.3.3   Epidemiologi Penyakit Tanaman

  1. Alat

Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah tanaman yang berada pada lahan praktikum yang terserang oleh penyakit

  1. Bahan

Bahan yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah bolpoin dan kertas

  1. Metode Kerja

a)      Menentuka suatu areal untuk diamati

b)      Mengamati populasi yang menyebabkan penyakit utama pada tanaman.

c)      Menghitung atau memperkirakan terjadinya diesease out-break

 

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

4.1. Hasil

4.1.1. Dasar Ilmu Tanah

  1. Morfologi Tanah

No.

Lapisan Tanah

1.

Horison/Lapisan

I

II

III

IV

V

  1. Tebal Horison (cm)

142 cm

72 cm

46 cm

40 cm

154 cm

  1. Batas Horison (cm)

Kabur /

Buram

Berangsur

Berangsur

Jelas

Tegas

2

Warna Matriks Tanah

10 y/r 7/8 Yellow

2,5 y 6/6 Olive Yellow

5 y 6/6 Olive Yellow

5 y 7/6 Yellow

5 y 5/6 Olive

3

Bercak Tanah

4

Perakaran

5

Kedalaman Efektif

6

Lapisan Pembatas

7

Kebatuan

  1. Sifat Fisik Tanah

Kadar Lengas (KL)

a

b

c

3KL

32,53

51,43

40,93

125%

Kadar Lengas Kapasitas Lapang (KLP)

A

b

%KLP

18,01

41,95

-132,92

Tekstur Tanah = Pasir Lempungan

Struktur Tanah

Kelas Kekuatan Agregat : Very Strong (Sangat Kuat).

Banyak tetesan 35.

Batas Cair (BC)

BC30

a

b

c

%BC

16,48

46,15

33,56

73,71%

BC20

A

b

c

%BC

17,88

47,62

35,65

67,36%

BC10

a

b

c

%BC

34,16

52,24

44,69

71,69%

Batas Lekat (BL)

a

b

c

%BL

51,15

66,55

62,25

38,73%

Batas Gulung (BG)

a

b

c

%BG

50,43

53,24

54,96

-38,96%

Batas Perubahan Warna (BW)

a

b

c

%BW

54,81

56,93

54,52

831,03%

Berat Volume (BV)

M

v

BV

1,36

2

0,68

Berat Jenis (BJ)

a

b

T1°C

BJ1

c

d

T2°C

BJ2

BJ(

27,34

76,77

28

0,9954

29,34

80,25

26

0,9959

0,017

Penentuan Tekstur Tanah di Laboratorium

Botol kosong A = 21,76

Botol kosong B = 32,76

a . 22,23 – 21,76 = 0,47

b .  33,22 – 32,76 = 0,46

a

b

%A

%B

%C

22,23

33,22

414,41

9,00

99,07

  1. Sifat Kimia Tanah
  2. Reaksi PH tanah

Pelarut Kcl = PH 8.00

Pelarut Aquades = 7.00

  1. Reaksi Redoks Tanah

Hasil menunjukan klasifikasi suasana oksidatif kuat (O2) = warna merah nyata disertai hijau

17 tets Hcl

KCNS 10%

K3Fe 2 tetes

KCNS 2 tetes

  1. Kapasitas Tukar Kation (KTK)

Keterangan  :

GV =Geotin Violet

ER  =Eusin Red

GV = PH 6.00

Kontrol PH 7.00

(Berwarna ungu)

ER = PH 5.00

(Berwarna Orange)

  1. Kandungan Kapur
    1. Secara lapang : Klas Rendah

Gejala              : Sedikit Percikan

%CaCO3         :1.00

  1. Secara Laboratorium :
a b C d %Kl %CaCO3
128,24 133,24 165,44 164,09 125% 1,38

Keterangan  :

Kl : Kadar Lengas
a   : celsi meter kosong
b   : celsi meter diisi tanah 5 gram
c   : celsi meter diisi tanah 5 gram + Hcl 2 N
d   : Setelah dipanaskan kemudian didinginkan

  1. Sifat Biologi Tanah
    1. Kandungan Bahan Organik Tanah

Secara Lapang
Hasil= rendah, karena perakaran sedikit /terbatas

Secara laboratorium (hasil titrasi 0,1 g)

B A n.FeSO4 %Kl %C %B
0,5 0,1 1 125% 7,02 12,10
  1. Tingkat Kematangan Fisik Tanah

Hasil n>=1,0 : mentah, tanah encer seperti bubur mudah lewat sela-sela jari kalau diperas. Kemampuan menahan beban sangat rendah dan penyusutanya besar.

4.1.2.      Fisiologi Tanaman

A. Difusi, Osmosis, dan Penyerapan Zat

1. Difusi :

a. Garam 50ml + silinder wortel 942gr setelah 15 menit = 0,900gr

b. Aquadest 50ml + silinder wortel 1,640gr setelah 15 menit = 1,793gr

2.  Osmosis :

a. Sukrosa 100% = 25ml + 1,335gr = setelah 15 menit = 0,888gr

b. Sukrosa 50% = 25ml + 1,197gr = setelah 15 menit = 1,194gr

c. Sukrosa 25% = 25ml + 1,456gr = setelah 15 menit = 1,501gr

d. Aquadest 25ml + 8,980gr = 1,379gr

No

 

Berat Polongan Silinder Kentang

0,0 M0,4 M0,8 M1,2 MI,6 M2,0 MBeratAwalBerat AkhirBeratAwalBerat AkhirBeratAwalBerat AkhirBeratAwalBerat AkhirBeratAwalBerat AkhirBeratAwalBerat Akhir11,5101,1361,0581,0801,2351,1901,3301,2191,5742,0501,2741,14120,7880,8911,5621,5691,3141,0950,8030,7211,3521,4420,9990,89131,0211,6361,4001,4731,2441,2572,4762,3031,4661,3661,9750,82640,8780,8121,6111,5821,5711,5781,2400,9990,9270,7881,4561,264

 

3. Mengukur potensial osmotic dan potensial air jaringan.

Botol kosong untuk yang layu :37,94.

Botol kosong untuk yang segar :38,093

Tabel 1. Menggunakan Daun Bayam

Tumbuhan Segar Tumbuhan Layu / Kurang Air
BK BT BS BK BT BS
0,538 0,625 0,148 0,332 0,397 0,049

BS

Berat botol kosong + daun segar = 38,631

Berat botol kosong + daun layu = 38,272

Berat daun segar = 38,631 – 38,093 = 0,538

Berat daun layu = 38,337 – 37,94 = 0,332

BT

Berat botol kosong + daun segar = 38,718

Berat botol kosong + daun layu = 38,337

Berat daun segar = 38,718 –38,093 = 0,625

Berat daun layu = 38,337 – 37,94 = 0,397

BK

Berat kering daun yang layu = 37,989

Berat kering daun segar = 38,241

Berat daun segar = 38,241 – 38,093 = 0,148

Berat daun layu = 37,989 – 37,94 = 0,049

TS

TR = BS – BK / BT – BK x 100%

= 0,538 – 0,148 / 0,625 – 0,148 x 100%

= 0,39 / 0,477 x 100%

= 81,76%

TKA

TR = BS – BK / BT – BK x 100%

= 0,332 – 0,049 / 0,397 – 0,049 x 100%

= 0,283 / 0,348 x 100%

= 81,32%

TS (Tumbuhan Segar)

WD = BT  – BS / BT – BK x 100 %

= 0,625 – 0,538 / 0,625 – 0,148 x 100 %

=18,23%

TKA (Tumbuhan kurang air)

WD = BT – BS / BT – BK x 100%

= 0,397 – 0,332 / 0,397 – 0,049 x 100%

= 0,065 / 0,348 x 100%

= 18,67%

 

B. Hubungan Air, Jaringan, dan Tanah

1.Tabel Pengamatan Pada Kapilaritas Tanah (Fisiologi Tanaman).

5 Menit ke 1 5 Menit ke 2 5 Menit ke 3 5 Menit ke 4 5 Menit ke 5 5 Menit ke 6
4cm 5,8cm 7cm 7,5cm 8,5cm 9,3cm

2. Rata-rata kecepatan = 4+5,8+7+7,5+8,5+9,3 / 6 = 42,1

Jadi rata-rata yang dihasilkan = 42,1 cm/menit

3. Grafik laju kenaikan air kapiler.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

C. Resistensi Difusi Gas dan Transpirasi

Tabel 3.1 Resistensi stomata daun dan lapis batas terhadap difusi CO2.

No

Jenis Pengamatan

Waktu Pengamatan Menit

Rerata

0’

15’

30’

45’

60’

1

Berat Daun

Daun

0,106

0,176

0,180

0,200

0,220

0,176

Daun

0,117

0,119

0,120

0,140

0,160

0,145

Daun

0,162

0,202

0,250

0,270

0,029

0,182

Replika

0,034

0,590

0,650

0,068

0,070

0,282

Replika

0,037

0,051

0,070

0,080

0,012

0,05

Replika

0,047

0,079

0,075

0,085

0,110

0,079

2

Suhu Daun

Daun

24,5°C

26°C

26°C

26°C

26°C

25,7°C

Daun

24,5°C

26°C

26°C

26°C

26°C

25,7°C

Daun

24,5°C

26°C

26°C

26°C

26°C

25,7°C

Replika

25°C

30°C

30°C

30°C

30°C

29°C

Replika

25°C

26°C

26°C

26°C

26°C

25,8°C

Replika

25°C

28°C

28°C

28°C

28°C

27,4°C

Air

24°C

25°C

25°C

25°C

25°C

24,8°C

Udara

25°C

25°C

25°C

25°C

25°C

25°C

3

Luas Daun

Daun

12

12

12

12

12

12

Daun

9

9

9

9

9

9

Daun

15

15

15

15

15

15

4

Kelembaban

D. Fotosintesis dan Klorofil

Tabel 4.1 Pengaruh cahaya terhadap proses fotosintesis.

Hasil uji lugol (gejala)

Keterangan

Bagian daun yang ditutup

Bagian daun yang tidak ditutup

Gelap

Tidak Gelap

Jika terkena cahaya matahari klorofil cenderung akan menyebar keseluruh bagian daun, sementara jika tidak terkena cahaya maka klorofil yang terkandung akan menggumpal di satu titik.

Tabel 4.2 Pengaruh intensitas cahaya terhadap laju fotosintesis.

No

Produksi gelembung oleh tanah

Keterangan

Terkena cahaya langsung

Tidak terkena cahaya langsung

Karena tanaman yang terkena sinar matahari akan berfotosintesis dan menghasilkan O2 (gelembung) yang lebih banyak.

 

20’

1

3

40’

2

4

60’

2

4

Rerata

1,67

3,33

Tabel 4.3 Pengaruh substrat CO2 terhadap laju fotosintesis.

No

Produksi Gelembung Oleh Tanah

Keterangan

Ditambah KHCO3

Tanpa ditambah KHCO3

20’

261

4

Apabila ditambahkan KHCO3 maka volume gelembung yang dihasilkan akan meningkat atau lebih banyak dari pada .tanpa ditambahkan KHCO3.

40’

419

7

60’

561

11

Rerata

413,67

7,33

Tabel 4.4 Daun Pacar Air

Sampel

Ulangan

λ 649nm

λ655nm

Kandungan klorofil a

Kandungan klorofil b

Klorofil total

Jumlah

Daun muda

1

0,525

0,892

9,2

6,76

1

62,192

Daun sedang

2

2,613

3,311

36,31

42,25

2

72,56

Daun tua

3

0,522

0,802

7,97

7,36

3

15,339

Daun pacar air muda

a = (13,7 . 0,892) – (5,76 . 0,525) = 12,2204 – 3,024 = 9,2

b = (25,8 . 0,525) – (7,60 . 0,892) = 13,545 – 6,779 = 6,76

Daun pacar air sedang

a = (113,7 . 3,311) – (5,76 . 2,613) = 45,36 – 15,05 = 36,31

b = (25,8 . 2,613) – (7,60 . 3,311) = 67,41 – 25,16 = 42,25

Daun pacar air tua

a = (13,7 . 0,802) – (5,76 . 0,522) = 10,98 – 3,006 = 7,974

b = (25,8 . 0,522) – (7,60 . 0,802) = 13,46 – 6,095 = 2,365

E Respirasi dan Pertumbuhan

Tabel 5.1 Memahami Respiratori Qoutient (RQ) Beberapa Kecambah

Hari Ke-

Kacang Kedelai (cm)

Kacang Tunggak (cm)

1

1

1,5

2

1,4

2

3

1,8

2,2

4

2,0

2,4

5

2,3

2,6

6

2,1

2,9

7

2

2,7

Rata-Rata

1,8

2,3

RQ= CO2/O2

Perhitungan : Kacang Kedelai = 1+1,4+1,8+2,0+2,3+2,1+2/7=1,8

: Kacang Tunggak = 1,5+2+2,2+2,4+2,6+2,9+2,7/7=2,3

 

 

 

 

 

F. Fitohormon (Zat Pengatur Tumbuh)

Tabel1. Pengaruh Hormon Terhadap Peristiwa Apical Dominan.

Ulangan

Kontrol

Lanolin

Konsentrasi IAA 0,1 %

1

0.2

2

2.3

1.2

3

4.5

0.2

2

4

5.8

0.4

2.3

5

7.7

0.8

2.9

Tabel2. Respon Akar Terhadap Perlakuan Hormon.

Parameter

Ulangan

Begonia+Air

Begonia+GA3

Begonia+Atonik

Begonia+Rotone

Jumlah

Akar

1

2

3

Rerata

Panjang Akar

1

2

3

Rerata

Berat Akar

1

2

3

Rerata

4.1.3.      Pengenalan Jasad Pengganggu Tanaman

v  Gejala/Tanda Tanaman Terserang Hama dan Patogen

NO

GAMBAR

KETERANGAN

1

Penyakit dan Hama

Gejala penyakit menguning pada di gejala hama berlubang pada daun

  • Penyakit : tidak diketahui
  • Hama : belalang dan ulat

Berlubang pada daun, kerusakan mencapai 50%

2

 Hama (ulat)

 

  • Berlubang pada daun, kerusakan mencapai 5%
  • Terjadi perubahan warna pada daun yang awalnya hijau menjadi kuning

3

 Hama (walang sangit )

 

  • Bintik – bintik kecil hitam pada daun
  • Menghisap bakal biji
  • Kerusakan mencapai 70%

4

 Penyakit (bakteri pathogen)

 

  • Menyebabkan luka pada batang
  • Merusak batang bagian  tengah
  • Menghisap cairan tanaman dan sebagai penyakit tungro
  • Kerusakan mencapai 10%

v  Hama Gejala/Tanda Tanaman Terserang

No Gambar keterangan
1

 

Tanaman diserang oleh belalang . belalang memakan daun mulai daritengah, serta menyebabkan lubang lubang pada daun

2

 

Tanama n terserang oleh ulat. Ulat memakan daun tanaman dari pinggir atau tepi menyebabkan kerusakan.3

Tanaman diserang oleh walang sangit. Walang sangit menyerang pada bagian bakal biji tanaman menyebabkan bakal biji menjadi rusak dan tidak bisa berkembang secara sempurna.

v  Pemantauan Ekosistem dan Sebaran Populasi Hama

  1. Pemantauan Ekosistem

No

Nama Organisme

Status

Pengamatan Ke-

1

2

3

1

Kapper

Imigran

3

2

1

2

Lady bug

Imigran

1

2

1

3

Belalang

Imigran

1

1

2

4

Triph

Imigran

2

1

0

5

Ulat

Imigran

1

2

1

  1. Sebaran Populasi Hama

No

Nama Organisme

Pengamatan Ke-

P1

P2

P3

Jumlah

1

2

3

1

2

3

1

2

3

1

Kumbang A

0

2

0

1

2

0

0

1

2

8

2

Kumbang B

0

1

0

1

1

2

0

4

0

9

3

Kumbang C

0

0

2

1

0

0

0

0

0

3

4

Cabuk

0

0

2

0

0

0

1

0

0

3

5

Belalang

1

0

0

1

1

0

1

0

3

7

6

Ulat

2

1

2

0

1

0

0

0

0

6

7

Kapper

1

0

0

0

0

1

0

0

0

2

8

Triph

1

0

0

0

0

2

0

0

0

3

9

Lady bug

0

0

0

1

0

0

1

1

0

3

10

Lalat buah

0

0

0

0

0

0

1

1

0

2

v  Epidemiologi Penyakit Tanaman

No

Jenis pathogen

Nama penyakit

Pengamatan Ke-

1

2

3

1

Virus bakteri

Bercak daun

6

8

8

2

Virus

Daun menguning

7

9

9

4.2.      Pembahasan

4.2.1. Dasar Ilmu Tanah

  1. Morfologi Tanah

Dari praktikum yang sudah dilakukan, dapat diketahui terdapat 5 (lima) bagian tanah pada satu tempat, yaitu :

  1. Horison

Tebal tipisnya horison dipengaruhi oleh lama tidaknya pem-bentukan tanah. Semakin tua usia tanah maka horison akan semakin lengkap dan pada saat dilaksanakannya praktikum terdapat beberapa ketebalan yang terbentuk mulai dari 40 cm sampai dengan 154 cm. Keadaan tersebut terjadi karena tingkat intensitas pembentukan dan perkembangan tanah yang beragam. Hal ini terjadi karena terjadinya proses pedogenesis tanah sebagai akibat bekerjanya faktor pembentuk tanah yang dapat mengubah sifat jenis tanah. Tebal dari masing-masing horison dapat dilihat dari hasil pengamatan.

Batas horison pada profil tanah dapat terlihat jelas ataupun kabur dapat diketahui dengan cara ketukan, tusukan jenis tekstur yang mendominasi dan warna dan pada praktikum yang sudah dilakukan terlihat batas horisonnya jelas dan datar itu karena pengaruh warna antara horison yang satu dengan yang lainnya tidak sama. Contohnya saja pada hasil pengamatan terdapat batas yang kabur/buram, berangsur jelas dan tegas.

  1. Warna Matriks Tanah

Pada pengamatan yang sudah dilakukan dapat diketahui bahwa warna matriks tanah pada satu daerah disetiap lapisannya berbeda-beda, karena pada dasarnya perbedaan warna tanah di pengaruhi oleh Bahan Organik (BO), semakin tinggi bahan organik maka tanah akan semakin gelap, warna tanah keabu-abuan karena kandungan Fe tereduksi Fe2-, dan pada tanah berdrainase baik warna tanah akan semakin merah (Hardjowigeno, 1987).

  1. Bercak Tanah

Bercak tanah terjadi karena terakumulasi senyawa Fe, Al, Mg yang semakin besar akumulasi, maka semakin jelas membentuk konkresi, tetapi pada saat pengamatan yang telah dilakukan kami kurang menemukan bercak pada tanah disebabkan karena kondisi tempat yang kami survei kurang memadai yang mengakibatkan pengamatan kurang kondusif.

  1. Perakaran

Pada survei yang telah dilakukan tidak dijumpai adanya perakaran tanaman hal tersebut dikarenakan tempat pengamatan sudah lama tidak ditumbuhi tanaman ataupun pepohonan. Kemungkinan perakaran dapat dijumpai dibagian top soil tetapi karena keterbatasan alat kami tidak dapat mengamatinya.

  1. Kedalaman Efektif

Kedalaman efektif suatu tanah sangat dipengaruhi oleh jenis frgetasi yang tumbuh diatasnya dan ada tidaknya lapisan pembatas didalam tanah tersebut. Dikarenakan kondisi tempat yang telah ditentukan kurang memadai kami tidak mengerti kedalaman efektifnya.

  1. Lapisan Pembatas

Lapisan Pembatas merupakan lapisan yang tidak dapat ditembus oleh akar tanaman karena mampat atau bisa tergolong padas yang berjenis fragipan yaitu lapisan pembatas yang sudah hancur.

  1. Kebatuan

Pada praktikum yang dilakukan tidak menemukan kebatuan, mungkin dikarenakan kurang telitinya pada saat pengamatan, tetepi biasanya pada pengamatan profil tanah sering dijumpai bahan yang belum/tidak terlapukkan dalam proses genesa tanah yaitu berupa batuan yang tersebar disana-sini atau disekitar daerah tersebut.

  1. Sifat Fisik Tanah

Setelah melakukan praktikum ini dapat diketahui nilai-nilai atau angka-angka disetiap tabel pengamatan. Dari tabel pengamatan KL diketahui adanya nilai a, b, c, dan persentase (%) KL yang mana a adalah suatu penimbangan botol kosong, b adalah botol yang sudah diisi dengan tanah yang sudah disediakan, dan c adalah nilai penimbangan setelah melakukan pengovenan selama ± 1 malam. Untuk hasil penilaiannya sudah dijelaskan pada tabel hasil pengamatan.

Dilihat pada tabel pengamatan KLP hanya terdapat nilai a, b, dan persentasenya. Untuk nilai a diketahui dari besarnya nilai berat botol kosong dikurangi dengan berat botol yang sudah berisi tanah, kemudian menghitung hasilnya seperti yang dijelaskan pada tabel hasil pengamatan.

Penentuan tekstur tanah di Indonesia menggunakan system USDA, dimana ukuran pasir 2,00-0,05. Tekstur tanah liat kandungan liatnya > 35%. Ukuran debu 0,05 -0,002 dan tanah bertekstur lempung sifatnya berada di antara pasir dan liat. Tanah dapat dibedakan menjadi 12 kelas tekstur (Wani, 1995). Salah satunya dapat dilihat dari hasil pengamatan tentang tekstur tanah, bahwa tekstur tanah yang diamati termasuk jenis tekstur pasir lempungan.

Berdasarkan hasil pengamatan struktur tanah hasil pengamatan menunjukkan termasuk dalam kelas kekuatan agregat yang sangat kuat, karena banyaknya tetesan mencapai 35 tetes. Sedangkan struktur tanah sendiri adalah agregasi jarah-jarah primer ke dalam jarah paduan yang ter-pisah dari agregat lainnya oleh suatu bidang belah alami, setiap tipe struktur mewakili suatu kelompok sejumlah bentuk individu yang diciri-cirikan oleh suatu bentuk umum (Poewowidodo, 1991).

Didalam konsistensi tanah terdapat adanya Batas Cair (BC), Batas Lekat (BL), Batas Gulung (BG), dan Baas Warna (BW) yang hasilnya dapat dilihat pada tabel hasil pengamatan. Konsistensi tanah merupakan sifat kekuatan rekat butiran tanah satu dengan yang lainnya. Bila dilihat dari keadaan tanah, dimana keadaan kering tanah memiliki konsistensi lepas, lunak, agak keras, keras, sangat keras. Sedangkan konsistensi tanah dalam keadaan basah dapat di lihat plastisitas dan kelekatannya (Pairunan, 1997).

Berdasarkan hasil pengamatan berat volum dapat dihitung dengan rumus BV = , yang mana nilai n diketahui dari hasil penimbangan bongkahan tanah, dan nilai v diketahui dari perhitungan antara volume air awal dikurangi volume akhir, kemudian diperoleh hasilnya seperti pada tabel hasil pengamatan. Tanah yang bertekstur kasar, ukuran porinya lebih besar, namun total ruang porinya lebih sedikit mempunyai berat volum yang lebih tinggi (Groossman, 2002).

Pada berat jenis (BJ) terdapat T1°C dan T2°C dimana keduanya menunjukkan suhu, perbandingan berat jenis partikel pada tanah dengan volume partikel tanah satuan BJ () (Hartawati, 2013).

  1. Sifat Kimia Tanah

Dari hasil praktikum dapat diketahui bahwa Reaksi PH tanah antara pelarut Kcl dan Aquades mempunyai hasil yang berbeda. Pelarut KCL mempunyai PH yang tinggi yaitu 8.00 sedangkan Pelarut Aquades mempunyai PH 7.00 atau netral. Hal ini menunjukkan PH tidak dapat bereaksi dengan KCL karena akan menjadikan PH semakin asam.

Ada dua faktor utama yang menyebabkan perubahan ph tanah: (1) yang menghasilkan peningkatan Hidrogen yang diapsorbsi dan selanjutnya Alumunium dan (2) yang meningkatkan kandungan basa yang diapsorbsi. Faktor pembentuk asam yang paling bayak adalah Asam karbonat (HCO3) yang dihasilkan dari reaksi CO2 dengan air. Asam organic seperti H2SO4 dan HNO3 merupakan asam yang memberikan banyak ion Hidrogen dalam tanah. Faktor pembentuk basa diantaranya adalah Ca, Mg, Na dan K (Mellanby, 1976).

Hasil pengamatan reaksi redoks tanah yaitu menunjukkan klasifikasi suasana oksidatif kuat (O2) karena berwarna merah nyata dan disertai dengan warna hijau. Faktor–faktor yang mempengaruhi pembentukan lapisan oksidasi reduksi yaitu sebagai berikut: (1) adanya faktor pencucian dari lapisan di dalam tanah yang menyebabkan tanah membentuk lapisan oksidasi dan lapisan reduksi. (2) adanya zat-zat protein yang berhubungan langsung oleh mikroorganisme yang sangat berperan penting dalam proses oksidasi reduksi dalam tanah (Hardjowigeno, 2003)

Pengamatan Kapasitas Tukar Kation menunjukkan perbandingan warna di blangko berbeda, warna di blangko ungu dan merah muda serta warna sampel putih dan merah muda. KTK tinggi disebabkan karena semakin besar perubahan warna yang terjadi maka akan semakin besar nilai KTK nya. Kapasitas tukar kation (KTK) merupakan sifat kimia yang sangat erat hubungannya dengan kesuburan tanah. Tanah-tanah dengan kandungan bahan organik atau kadar liat tinggi mempunyai KTK lebih tinggi daripada tanah-tanah dengan kandungan bahan organik rendah atau tanah-tanah berpasir (Hardjowogeno 2007). Nilai KTK tanah sangat beragam dan tergantung pada sifat dan ciri tanah itu sendiri. Menurut Hakim et al. (1986), besar kecilnya KTK tanah dipengaruhi oleh :

1. Reaksi tanah atau pH

2. Tekstur atau jumlah liat

3. Jenis mineral liat

4. Bahan organik

5. Pengapuran dan pemupukan.

Kandungan kapur (CaCO3) tanah pada hasil pengamatan secara lapang menunjukkan klas rendah dengan gejala sedikit percikan dan % CaCO3 nya 1.00 sedangkan pada hasil secara laboratorium didapati hasil % CaCO3 sebesar 1.38, selengkapnya dapat dilihat dari tabel hasil pengamatan.

Pengukuran pH tanah dapat memberikan keterangan tentang kebutuhan kapur, respon tanah terhadap pemupukan, proses kimia yang mungkin berlangsung dalam proses pembentukan tanah, dan lain-lain (Hardjowigeno 2003).

  1. Sifat Biologi Tanah

Kandungan bahan organik tanah

Dari hasil percobaan yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa hasil tidak sama, secara lapang menunjukkan hasil kandungan bahan organik tanah rendah, karena perakrannya sedikit sedangkan secara laboratorium menunjukkan hasil 7,02 % kemungkinan terjadi kesalahan pada saat melakukan percobaan.

Kandungan bahan organik tanah biasanya diukur berdasarkan kandungan C-organik. Kandungan karbon [c] bahan organik bervariasi antara 45%-60% dan konversi C-organik menjadi beban samadengan % C-organik x 1,724 (foth, 1994).

  1. Tingkat Kematangan Fisik Tanah

Pengamatan tentang Kematangan fisik tanah yaitu terdapat dalam tingkat kematangan saprik yaitu apabila kandungan serat yang tertinggal dalam telapak tangan setelah pemerasan adalah kurang dari seperempat bagian (<1/4).>3m) sekitar 5%,

Menurut Soil Survey Staff (1990), bahwa tingkat kematangan atau tingkat pelapukan tanah gambut dibedakan berdasarkan tingkat dekomposisi dari bahan atau serat tumbuhan asalnya. Tingkat kematangan terdiri dari tiga katagori yaitu fibrik, hemik dan saprik.

Tingkat kematangan tanah gambut dalam pengamatan di lapangan dapat dilakukan dengan cara mengambil segenggam tanah gambut dan memersnya dengan tangan. Kriteria mentah atau matang dari gambut dapat ditunjukkan dengan melihat hasil cairan dan sisa bahan perasan. Ketentuan dalam menentukan kematangan gambut untuk masing-masing katagori adalah sebagai berikut:

1)   Tingkat kematangan fibrik yaitu apabila kandungan serat yang tertinggal dalam telapak tangan setelah pemerasan adalah tiga per empat bagian atau lebih (>3/4).

2)   Tingkat kematangan hemik yaitu apabila kandungan serat yang tertinggal dalam telapak tangan setelah pemerasan adalah antara kurang dari tiga per empat sampai seperempat bagian atau lebih (<3/4>1/4).

3)   Tingkat kematangan saprik yaitu apabila kandungan serat yang tertinggal dalam telapak tangan setelah pemerasan adalah kurang dari seperempat bagian (<1/4).>3m) sekitar 5%,

4.2.2.  Fisiologi Tanaman

a. Difusi, Osmosis, dan Penyerapan Zat

Setelah melakukan praktikum ini dapat diketahui  bahwa proses difusi dan osmosis berat volum dari awal keakhir berbeda tidak ada yang beratnya sama atau tetap, karena difusi adalah peristiwa mengalirnya atau berpindahnya suatu zat dalam pelarut dari bagian berkonsentrasi tinggi kebagian yang berkonsentrasi rendah. Difusi akan terus terjadi hingga seluruh  partikel tersebar luas secara merata  atau mencapai keadaan kesetimbangan dimana perpindahan molekul tetap terjadi walaupun tidak ada perbedaan konsentrasi.Difusi yang sering terjadi adalah difusi molekuler.Difusi ini terjadi jika terbentuk perpindahan dari sebuah lapisan molekul yang diam dari solid atau fluida (Uwie,2010).

Difusi dipermudah dengan protein pembawa, proses difusi ini melibatkan protein yang membentuk suatu saluran dan mengikat substansi yang ditransport. Protein ini disebut protein pembawa. Protein pembawa biasanya mengangkut molekul polar, misalnya asam amino dan glukosa (Camobell,2002). Ada beberapa factor yang mempengaruhi kecepatan difusi yaitu:

1.Ukuran partikel. Semakin kecil ukuran partikel, semakin cepat partikel itu akan bergerak sehingga kecepatan difusi semakin tinggi.

2.Ketebalan membrane. Semakin tebal membrane maka semakin lambat kecepatan difusi.

3 Luas suatu area. Semakin luas suatu area maka semakin cepat kecepatan difusinya.

4.Jarak. Semakin besar jarak antara dua konsentrasi maka semakin lambat kecepatan difusinya.

5.Suhu. Semakin tinggi suhu, partikel mendapatkan energy untuk bergerak lebih cepat, maka semakin cepat pila kecepatan difusinya.

Dari percobaan osmosis berat silinder wortel menjadi berkurang dari berat awal karena adanya prpses osmosis. Osmosis sendiri merupakan perpindahan partikel atau air melalui membrane permeable selektif dari bagian yang encer kebagian yang lebih pekat. Membran semipermeable  harus bisa ditembus oleh pelarut tapi tidak oleh zat terlarut yang mengakibatkan gradien tekanan sepanjang membrane (Pratiwi,2006). Ada 2 faktor penting yang mempengaruhi osmosis yaitu kadar air dan materi terlarut yang ada didalam sel serta kadar air dan materi terlarut yang ada diluar sel.

Pada pengukuran potensial osmotic dan potensial air jaringan kita menggunakan bahan kentang dan wortel. Hasil pengukuran dapat dilihat dari table pengamatan, yaitu diketahui bahwa semua berat awal dan berat akhir selalu berbeda. Hal tersebut karena kadar garam pada setiap  irisan kentang lebih kecil jumlahnya dibandingkan dengan kadar yang ada pada mangkuk air garam. Irisan-irisan yang ada dalam mangkuk garam meenjadi lembek, karena kehilangan sebagian dari air yang semula dikandung dalam sel-selnya. Air yang berasal dari tiap irisan kentang keluar melalui membran-membran sel dan masuk kedalam air garam (Haliday,2006).

Dalam suatu daun, volume sel dibatasi oleh dinding sel dan relative hanya sedikit aliran air yang dapat diakomodasikan oleh elastisitas dinding sel. Konsekuensi tekanan hidrosatasik (tekanan turgor) berkembang dalam vakuola menekan sitoplasma melawan permukaan dalam dinding sel dan meningkatkan potensial air vakuola. Dengan naiknya tekanan turgor sel-sel yang berdekatan saling menekan, dengan hasil bahwa sehelai daun yang mulanya dalam keadaan layu menjadi segar. Pada keadaan seimbang tekanan turgor akan menjadi atau mempunyai nilai maksimum dan air tidak cenderung mengalir dari apoplas ke vakuola (Filter dan Hay,1981).

Peristiwa plasmolysis terjadi apabila jaringan ditempatkan pada larutan yang hipertonis atau memiliki potensial osmotik lebih tinggi. Jika suatu sel direndam dalam larutan yang  hipertonik  maka air dari vakuola akan terdorong berdifusi keluar dari sel menembus membran kelarutan luar. Keadaan ini membuat sel kehilangan turgornya, vakuola mengerut dan membrane sel terpisah dari dinding sel. Kondisi ini menandakan sel dalam keadaan berplasmolisis (Salisbury,1995).

Potensial osmotik sendiri bergantung pada hidrostatik atau tekanan angina dalam air. Semakin rendah potensial dari suatu sel atau jaringan tumbuhan, maka semakin besar kemampuan tanaman dalam menyerap air dari dalam tanah. Sebaliknya semakin tinggi potensial air maka semakin besar potensial jaringan untuk memberikan air kepada sel yang mempunyai kandungan air lebih rendah (Tcitrosomo,1987).

Dari percobaan yang telah dilakukan daapat disimpulkan bahwa turgiditas relatif  tumbuhan segar lebih besar dari pada turgiditas relatif tumbuhan layu. Water difial tumbuhan layu lebih besar dari pada tumbuhan segar. Hal ini karena jaringan tumbuhan layu penyerapannya tidak dapat mengimbangi laju kehilangan air. Maka turgiditas jaringannya akan menurun dan menimbulkan kelayuan.

Pada tumbuhan yang layu maka sebagian besar stomatanya tertutup sehingga air yang masuk hanya sedikit. Inilah yang menyebabkan kekurangan air sehingga nilai WD pada daun layu lebih besar daripada daun segar yaitu 18,67% sedangkan pada daun segar hanya 18,23%.

B. Hubungan Air, Jaringan, dan Tanah.

Keberadaan air dalam tanah terdapat dalam beberapa bentuk,meliputi air gravitasi, air kimia, air higroskopis, dan air kapiler. Air kapiler dan air higroskopis dapat dimanfaatkan akar tanaman sedangkan yang lain tidak. Kesediaan air dalam tanah sangat dipengaruhi oleh struktur dan tekstur tanah itu sendiri. Tanah bertekstur pasir, debu dan liat memiliki daya ikat air yang berbeda (Muharram,2011).

Molekul-molekul air ditarik oleh dinding tabung melalui gaya adhesi sehingga bergerak naik. Gaya kohesi antara molekul-molekul air juga menyebabkan air yang tidak terkontak dengan dinding tabung naik. Tinggi naiknya air dalam tabung sama dengan beratnya untuk mengimbangi gaya-gaya adhesi dan kohesi, Gaya kapiler juga bekerja untuk semua tanah basah. Tetapi kecepatan dan ketinggian naiknya air lebih lambat dalam pori tanah, karena pori tanah tidak lurus dan tidak seragam. Belum lagi adanya udara yang teperangkap dalam pori yang menyebabkan lambatnya gerakan kapilar (Mustamidin,2011).

Jumlah air yang bergerak melalui tanah berkitan dngan ukuran pori-pori pada tanah, air tambahan berikutnya akan bergerak kebawah melalui proses penggerakan air januh. Penggerakan air tidak hanya terjadi secara vertical namun juga horizontal. Gaya gravitasi tidak berpengaruh terhadap penggerakan horizontal (Hakim,dkk,1986).

Dari praktikum yang telah dilakukan diperoleh bahwa air merambat cukup cepat. Ini terjadi karena adanya daya tarik dari permukaan tanah pada konsep kapilaritas.  Nilai efek kapilaritas tidak hanya beraturan pada setiap bagian tanah, karena ukuran pori-pori tanah yang dilewatinya bersifat acak pula. Pada jenis tanah yang berbeda akan memberikan pola pergerakan air tanah yang berbeda pula karena pola pergerakan air tanah yang berupa gerak kapiler ini sangat  dipengaruhi oleh tekstur dari tanah tersebut. Oleh karena itu kecepatan pergerakan air vertical kebawah dan pergerakan horizontal didalam tanah bergerak agak cepat sampai agak lambat (Craig,1991).

C. Resistensi Difusi Gas dan Transpirasi.

Banyaknya air yang hilang melalui transpirasi bertujuan untuk membesarkan tanaman karena rangka molekul semua bahan organic pada tanaman terdiri dari atom karbon yang harus diperoleh dari atmosfer. Karbon masuk kedalam tumbuhan sebagai CO2 melalui pori stomata yang paling banyak dipermukaan daun dan air keluar secara difusi melalui pori yang sama saat stomata terbuka (Salisbury,1995).

Tahanan terhadap difusi yang menembus stomata berbanding terbalik terhadap diameter celah stomata karena fungsi stomata paling penting untuk memasukkan CO2 kedalam mesofil dan periode stomata membuka biasanya bersamaan dengan keadaan merangsang fotosintesis. Stomata cenderung membuka jika konsentrasi CO2 dalam rongga substomata jenuh dibawah sub suatu tingkat yang kritis (Fitten,1998).

Dari percobaan yang telah dilakukan diperoleh bahwa penguapan yang terjadi pada daun lebih besar dari pada kertas, ini membuktikan bahwa daun memiliki resistensi stomata daun dan lapisan batas terhadap difusi CO2.

D. Fotosintesis dan Klorofil

1.Pengaruh cahaya pada proses fotosintesis.

Cahaya mutlak dibutuhkan sebagai energy penggerak fotosintesis, namun demikian tingkat kebutuhan antara kelompok tumbuhan akan berbeda. Tidak pada setiap kondisi meningkatnya intensitas akan diikuti atau menyebabkan meningkatnya laju fotosintesis (Frank,1995).

Dari percobaan yang telah dilakukan diperoleh hasil bahwa daun tanaman yang ditutup setelah diolesi lugol warnanya lebih gelap, ini menunjukkan klorofil lebih sedikit karena daun tidak menerima cahaya matahari yang cukup dan menyebabkan daun tidak bisa melakukan proses fotosintesis. Sedangkan daun yang tidak ditutupi mampu melakukan proses fotosintesis sehingga klorofilnya jauh lebih banyak.

2. Pengaruh intensitas cahaya terhadap fotosintesis

Adanya sinar matahari merupakan sumber dari energy yang menyebabkan tanaman dapat membentuk gula. Tanpa bantuan dari sinar matahari, tanaman tidak dapat memasak makanan yang diserap oleh tanah yang mengakibatkan tanaman menjadi lemah atau mati (Saktiyono,2008).

Cahaya merupakan sumber energy untuk fotosintesis. Energi cahaya yang diserap oleh tanaman tergantung pada intensitas sumber cahaya, lama penyinaran dan panjang gelombang cahaya. Semakin tinggi intensitas cahaya maka semakin banyak energy cahaya yang diserap oleh klorofil sehingga laju fotosintesis meningkat (Jamin,1989).

Dari percobaan yang dilakukan diperoleh hasil bahwa gelembung pada hydrila yang terkena cahaya langsung lebih banyak dari pada yang tidak terkena cahaya. Ini membuktikan bahwa laju fotosintesis pada hydrila yang terkena cahaya lebih cepat ditandai dengan gelembung udara yang lebih banyak, karena fotosintesis menghasilkan O2 dan pati (starch).

3.Pengaruh substrat CO2 terhadap laju fotosintesis.

Konsentrasi CO2 sebagai precursor atau bahan dasar asimlasi karbon tertentu akan sangat berpengaruh pada produktifitas fotosintesisnya. Tumbuhan menunjukkan kemampuannya dalam memfiksasi CO2 yang berbeda-beda (Campbell,2002).

Dari percobaan yang dilakukan diperoleh hasil bahwa hydrila yang diberi KHCO3 lebih banyak menghasilkan gelembung, ini menunjukkan bahwa laju fotosintesisnya lebih tinggi karena salah satu hasil dari fotosintesisnya adalah O2. Berbeda dengan hydrila yang tidak diberi KHCO3 gelembungnya lebih sedikit karena laju fotosintesisnya rendah disebabkan kekurangan CO2 atau konsentrasi CO2 rendah.

4. Fungsi pigmen mengabsorbsi cahaya pada panjang gelombang tertentu.

Spectrum absorbs klorofil a dan b  berbeda cahaya yang tidak ditangkap oleh klorofil a dan b dengan panjang gelombang 460nm akan ditangkap oleh klorofil b yang mempunyai absorbsi 500-600nm (Striyer,1996).

Dari percobaan praktikum yang telah dilakukan diperoleh hasil bahwa jumlah klorofil toal pada daun tua, sedang dan muda 15,339 ; 72,56 ; 62,192. Ini mengindikasikan bahwa jumlah klorofil pada daun sedang lebih banyak dari pada daun tua dan bisa dilihat pada tabel pengamatan.

E Respirasi dan Pertumbuhan

Bahan organic sumber eneri  dalam biji bervariasi, ada biji lebih banyak menyimpan ‘reserve’ dalam bentuk amilum da nada yang lebih banyak timbunan lemak  ataupun protein, karena itu jumlah oksigen dibutuhkan atau jumlah CO2 dikeluarkan sebagai sisa metabolisme akan berbeda satu dengan lainnya (Saidatul,2013).

Perubahan kondisi saat penyimpanan dapat menyebabkan perubahan laju respirasi. Laju respirasi akan terus meningkat apabila suhu meningkat sampai suatu saat lajunya dihambat karena terjadinya hal seperti tidak aktifnya enzim, kehabisan cadangan nutrisi atau oksigen atau karena karbon dioksida terakumulasi hingga mencapai tingkat yang menghambat. Dengan mengetahui kandungan biokimia tersebut, maka viabilitas benih dapat diprediksi sehingga taknik penyimpanan atau pengujian yang tepat dapat ditetapkan (Rohandi,2010).

Kecepatan proses permulaan perkecambahan meliputi: penyerapan air, hidrolisa makanan cadangan, mobilisasi makanan, asimilasi, respirasi, dan pertumbuhan bibit sebagai tahap terakhir dari proses perkecambahan (Ardian,2008).

Dari peercobaan diperoleh hasil bahwa respirasi pada kacang tunggak lebih besar dari pada kedelai, hal ini disebabkan jumlah kecambah pada kacang tunggak lebih banyak sedangkan RQ tidak dapat dihitung karena CO2 dan O2 tidak bisa diukur.

F. Fitohormon (Zat Pengatur Tumbuh)

Pengaruh Hormon Terhadap Peristiwa Apikal Dominan.

Bila respon akar dan batang tumbuhan yang diletakkan hirisontal diperbandingkan, akar akan bergerak geotropisme positif, sedangkan batang geotropism negatif. Pada kedua keadaan tersebut posisi horizontal mengakibatkan perpindahan IAA kebagian bawah batang dan akar. Konsentrasi yang tinggi pada bagian bawah akar menghambat pemanjangan sel, sedangkan konsentrasi IAA dibelahan atas mendorong pemanjangan sel. Hasil akhir dari pengaruh ini akan membengkok kebawah (Heddy,1989).

Dominansi pertumbuhan terdapat dibagian apeks atau ujung organ yang disebut sebagai dominansi apikal. Dominansi apical diartikan sebagai persaingan antara tunas pucuk dan tunas lateral dalam hal pertumbuhan. Sedangkan menurut dominansi apical merupakan konsentrasi pada ujung tunas tumbuhan dimana kuncup terminal secara parsial menghambat pertumbuhan kuncup aksilar (Dartius,1991).

GA3 yang lazim digunakan selama pertumbuhan aktif, sebagian giberelin dimetabolismekan dengan cepat melalui proses hidroksilasi yang menghasilkan produk yang tidak aktif (Salisbury,1995)

Perilaku tertentu tumbuhan biasa dianggap sebagai respon terhadap bermacam-macam rangsangan yang mempengaruhi tumbuhan. Rangsangan itu bisa merupakan  eksternal maupun internal  sebagai akibat dari proses metabolic atau proses melanjutkan keturunan.Faktor-faktor pertumbuhan melalui kontrol terhadap sel dan aktifitas jaringan adalah pengatur tumbuhan sebagai satu kesatuan (Heddy,1996)

Hormon tumbuhan merupakan bagian dari proses adaptasi dan pertahanan diri tumbuhan untuk mempertahankan kelangsungan hidup jenisnya. Umumnya suatu fitohormon bertindak secara sinergis dengan hormon-hormon lainnya dengan menggalakkan suatu respon (Dwidjoseputro,1994).

Dari praktikum yang telah dilakukan belum diketahui adanya pertumbuhan akar dan tunas. Hal ini disebabkan membutuhkan waktu yang lama dalam proses pertumbuhan akar dan juga jenis tanaman begonia yang digunakan batangnya terlalu besar, serta tidak menggunakan spesies yang biasa digunakan untuk perbanyakan tanaman yang batangnya berukuran lebih kecil.

Dari praktikum yang dilakukan pada pengaruh hormon terhadap peristiwa apical dominan dapat diketahui bahwa pada pemberian kontrol lebih cepat tumbuh dari pada perlakuan yang diberi lanolin dan konsentrasi IAA.

4.2.3.  Pengenalan Jasad Pengganggu Tanaman

PJPT merupakan pengenal jasad pengganggu tanaman yang mana kita akan ditujukan ke pada jasad – jasad yang terdapat di ruang lingkup ekosistem di bidang pertanian. Dan pada praktikum agroteknologi terpadu  ada beberapa bab yang dibahas menyangkut dengan pjpt antara lain : gejala/tanda tanaman terserang hama dan pathogen, hama gejala/tanda tanaman terserang,pemantauan ekosistem dan sebaran populasi hama dan epidomologi penyakit tanaman. Yang mana pada bab – bab tersebut akan di bahas sebagai berikut :

  1.  Gejala / tanda tanaman terserang hama dan pathogen

Pada praktiku di lab agro menyangktu dengan gejala/tanda tanaman terserang hama dan pathogen, didapat hasil yang diserang hama pada struktur organ tanaman adalah daun dengan hama belalang dengan tanda berlubang – lubang pada daun dan kerusakan mencapai 50% dan pada hama ulat dengan tanda yang sama dengan daun berlubang yang mencapai kerusakan 5 %.Pada hama walang sangit yang menyerang bakal biji dengan tanda – tanda bintik – bintik hitam dan kerusakan mencapa 70 %. Dengan melihat serangan hama pada beberapa jenis hama tersebut berbeda –beda tergantung pada jenis hama yang menyerang yang akan berkibat kepada persentase serangan hama itu sendiri terhadap organ tanaman yang diserang.

Hama adalah organisme yang dianggap merugikan dan tak diinginkan dalam kegiatan sehari-hari manusia. Walaupun dapat digunakan untuk semua organisme, dalam praktik istilah ini paling sering dipakai hanya kepada hewan. Suatu hewan juga dapat disebut hama jika menyebabkan kerusakan pada ekosistem alami atau menjadi agen penyebaran penyakit dalam habitat manusia. Contohnya adalah organisme yang menjadi vektor penyakit bagi manusia, seperti tikus dan lalat yang membawa berbagai wabah, atau nyamuk yang menjadi vektor malaria. Dalam pertanian, hama adalah organisme pengganggu tanaman yang menimbulkan kerusakan secara fisik, dan ke dalamnya praktis adalah semua hewan yang menyebabkan kerugian dalam pertanian (Wikipedia, 2013).

Menurut Tjitrosoepomo (1989) dalam Siswanto dan Trisawa (2001), setiap jenis tanaman/tumbuhan memiliki daya tarik yang berbeda terhadap serangga. Serangga umumnya datang mengunjungi bunga karenatertarik oleh bau atau warna untuk mendapatkan makanan. Bunga adalah bagian tumbuhanyang paling menarik bagi serangga karena bau dan warnanya dan mendapatkanmakanannya, namun seringkali mempunyai bentuk khas, sehingga serangga yang mampu memanfaatkan hanya jenis tertentu saja.

Menurut Thamrin et.al (2002),Di lahan pasang surut ditemukan beberapa jenis hama potensial pada tanaman sayuran seperti hama perusak daun (ulat grayak, ulat jengkal, ula pengorok daun serata hama perusak buah yaitu lalat buah). melaporkan bahwa ditemukan beberapa jenis hama sayuran seperti pada tanaman sawi adalah ulat grayak (Spodoptera litura), ulat plutela (Plutela xylostella), penggerek pucuk(Crocidolomia binotlid) pada tanaman timun adalah kutu daun (Aphid gossypii), lalat buah(Dacus cucurbitae), ulat buah (Diaphania indica). Pada tanaman paria adalah kutu daun(Aphid sp.), tungau (Trips sp.), lalat buah (Dacus sp), kumbang daun (Aulocophorasimiles), ulat grayak (Spodoptera sp), ulat jengkal (Chrysodeixis chalcites) dan lalat buah(Dacus sp). Tingkat kerusakan dari hama utama tersebut cukup bervariasi antara 10- 25%.Pada MH. 2002/2003 telah terjadi ledakan hama (Diaphania indica), pada tanaman paria ulat pemakan daging buah dilahan rawa pasang surut dengan tingkat kerusakan dapat mencapai 80-100%. Jenis lalat (Agromyzidae: Diptera) yang menyerang dengan mengkorok daun danbersifat folifag, yang diketahui dapat menyerang lebih dari 70 jenis tanaman di seluruhdunia. Tanaman inangnya termasuk famili Leguminoseae (Kalshoven, 1981).

  1. Hama gejala atau tanda tanaman terserang.

Belalang adalah tiep serangga pemakan daun, mulut belalang bertipe mengigit mengunyah, akibat dari serangan hama ini adalah berlubangnya daun yang dimulai dari tipe tanaman dengan kerusakan yang lebar (Soeroto dkk, 1994)

Menurut kalshoven (1981), spesies yang menyerang tanaman bayam adalah T. tabacci Lind yang pada intensitas serangan tinggi dapat menyebabkan  daun menjadi keriting. Namun gejala keriting daun ini tidak dijumpai di lapang. Menurut Sunjaya (1970) populasi serangga dapat dipengaruhi oleh kualitas makanan (inang), tanaman lebih rentan terhadap serangan hama.

Hama walang sangit biasa menghisap butir butir padi yang masih cair begitupun pada bakal biji bayam. Biji yang sudah di hisap akan menjadi hampa, agak hampa, atau liat serta kulit biji akan berwarna kehitam –hitaman.. walang sangit dewasa juga dapat memakan biji-biji yang sudah mengerasyaitu dengan mengeluarkan enzim yang dapat mencerna karbohidrat (Sugiarto, 2011)

Dari hasil pengamatan dapat diketahui tanda dan gejala pada tanaman. Banyak tanaman yang terserang ulat, belalang dan walang sangit dengan menyebabkan kerusakan pada tanaman contohnya daun menjadi berlubang-lubang dan bakal biji pada tanaman menjadi rusak bisa juga daun yang terserang menjadi menguning ataupun menggulung.

  1. Pemantauan ekosistem dan sebaran populasi hama

Pada praktikum menyangkut dengan pemantauan ekosistem yang dilakukan di lahan kreativitas mahasiswa di dapat beberapa organisme dengan status imigran antara lain : kapper, lady bug , belalang , triph , dan ulat . Akan tetapi didominasi oleh hama kapper dengan hasil pengamatan ke 1,2 dan 3 = 3,2 dan 1,pada lady bug di dapat hasil 1,2 dan 1,pada belalang 1,1 dan 0,pada triph di dapat hasil 2,1 dan 0 dan pada ulat 1,2 dan 1. Dilihat dari pernyataan diatas bahwasannya terdapat fluktuatif  pada data pengamatan  karena  jumlah organisme yang terdapat di dalam suatu vegetasi itu bisa berubah – ubah tergantung  kepada lingkungan yang mempengaruhi disekitarnya. Dan adanya organisme yang berstatus imigran dipengaruhi karena tanaman inang yang dihinggapinya sudah berkurang sehingga terjadinya perpindahan. Dan organism tersebut sangat cepat beradaptasi terhadap tanaman inang yang baru sehingga organism tersebut membentuk populasi di lingkungan yang baru .

Ekosistem sendiri tidaklah bersifat statis melainkan selalu mengalami perubahan keseimbangan lingkungan adalah salah satu faktor yang dapat mengganggu keseimbangan alam. Pencemaran lingkungan disebabkan oleh bahan polutan yang berasal dari beberapa sumber ( Gunawan totok, sukwardjono,dkk. 2007 )

Semua organisme memerlukan energi untuk pertumbuhan, pemeliharaan,reproduksi, dan pada beberapa spesies,untuk lokomosi. Sebagian besar produsen primer menggunakan energi cahaya untuk mensintesis molekul organic yang kaya energi, yang selanjutnyadapat dirombak untuk membuat ATP Konsumen mendapatkanbahan bakarorganiknya dari tangan kedua (atau bahkan tangan ketiga atau tangan keempat) melalui jaring-jaring makanan. Dengan demikian, keadaan aktivitas fotosintetik menentukanbatas pengeluaran bagi pengaturan energi keseluruhanekosistem. ( Sumber : E. learning. 2006: 14 )

Pada praktikum menyangkut dengan sebaran populasi  hama dengan menggunakan 3 petakan dan menggunakan system zig zag sehingga di dapat beberapa hama di dalam suatu vegetasi tersebut antara lain : kumbang, cabuk, kapper , lady bug , dan kulit birah. Akan tetapi di dominasi oleh kumbang, belalang dan ulat. Karena selain hama – hama tersebut mempunyai dampak negative pada tanaman inang yang dihinggapinya organism tersebut juga termasuk sebagai komponen jarring – jarring makanan di dalam suatu ekosistem. Karena keseimbangan ekosistem dpengaruhi oleh populasi yang terdapat di dalam ekosistem tersebut sebagai penjalan dalam jarring – jarring makanan.

Populasi merupakan sekelompok organisma dari spesies yang sama yang menempati suatu ruang tertentu, dan mampu melakukan persilangan diantaranya dengan menghasilkan keturunan yang fertil. Dengan demikian hubungan antara organisma satu dengan organisma lainnya dalam populasi dapat melalui dua jalan yaitu hubungan genetika dan hubungan ekologi. ( E.Learning . 2006 : 6 )

  1. Epydomologi penyakit tanaman

Pada praktikum yang menyangkut dengan epydomologi penyakit  pada tanaman dengan sampel komoditas kangkung, selada dan cabai.yang mana pada tanaman tersebut setelah diidentifikasi terdapat bercak daun pada tanaman dan daun menguning pada tanaman. Dengan didominasi penyakit daun menguning dengan hasil pada pengamatan 1,2 dan 3 di dapat hasil 7, 9 dan 9. Pada bercak daun pada pengamatan 1, 2, dan 3 di dapat hasil 6,8 dan 8.

Bercak daun menyebabkan kerusakan jaringan daun  menyebabkan kerusakan jaringan daun atau defolasi ( pengangguran daun ) sehingga proses fotosistem akan menurun karena luas permukaan daun yang berfotosintesis menjadi berkurang ( Angrios . G .N. 1998)

BAB V

KESIMPULAN

 

5.1. Kesimpulan dan Saran

5.1.1. Dasar Ilmu Tanah

Dari praktikum yang sudah dilakukan didapat beberapa kesimpulan yang diantaranya adalah :

  1. Proses-proses dalam pembentukan tanah yaitu melalui tahapan seperti berikut yaitu horizon tanah yang meliputi tebal tipisnya horison dan batas horison, warna matriks tanah, bercak tanah, perakaran, kedalaman efektif, lapisan pembatas, dan kebatuan.
  2. Tekstur tanah liat kandungan liatnya > 35%. Ukuran debu 0,05 -0,002 dan tanah bertekstur lempung sifatnya berada di antara pasir dan liat. Struktur tanah hasil pengamatan menunjukkan termasuk dalam kelas kekuatan agregat yang sangat kuat, karena banyaknya tetesan mencapai 35 tetes.
  3. Ada dua faktor utama yang menyebabkan perubahan ph tanah: (1) yang menghasilkan peningkatan Hidrogen yang diapsorbsi dan selanjutnya Alumunium dan (2) yang meningkatkan kandungan basa yang diapsorbsi. Pengamatan Kapasitas Tukar Kation menunjukkan perbandingan warna di blangko berbeda, warna di blangko ungu dan merah muda serta warna sampel putih dan merah muda. KTK tinggi disebabkan karena semakin besar perubahan warna yang terjadi maka akan semakin besar nilai KTK nya.
  4. Secara lapang menunjukkan hasil kandungan bahan organik tanah rendah, karena perakrannya sedikit sedangkan secara laboratorium menunjukkan hasil 7,02 %. Tingkat kematangan tanah gambut dalam pengamatan di lapangan dapat dilakukan dengan cara mengambil segenggam tanah gambut dan memersnya dengan tangan. Kriteria mentah atau matang dari gambut dapat ditunjukkan dengan melihat hasil cairan dan sisa bahan perasan.

Saran dari praktikum ini yaitu apabila memilih tempat untuksurvei lapang harus yang sesuai agar mempermudah dan demi lancarnya kegiatan praktikum, serta alat-alat yang digunakan dalam praktikum harus disediakan dan yang masih layak pakai.

5.1.2. Fisiologi Tanaman

Dari praktikum Fisiologi Tanaman dapat diambil beberapa kesimpulan antara lain:

  1. Berat volum silinder kentang pada proses difusi dan osmosis dari awal sampai akhir adalah berbeda atau tidak ada yang beratnya sama atau tetap.
  2. Nilai efek kapilaritas tidak hanya beraturan pada setiap bagian tanah, karena ukuran pori-pori tanah yang dilewatinya bersifat acak.
  3. Penguapan pada daun membuktikan bahwa daun memiliki resistensi stomata daun dan lapisan batas terhadap difusi CO2.
  4. Semakin tinggi intensitas cahaya maka semakin banyak energy cahaya yang diserap oleh klorofil sehingga laju fotosintesis meningkat
  5.  Konsentrasi CO2 sebagai precursor atau bahan dasar asimlasi karbon tertentu berpengaruh pada produktifitas fotosintesisnya.
  6. Laju respirasi akan terus meningkat apabila suhu meningkat sampai suatu saat lajunya dihambat karena terjadinya hal seperti tidak aktifnya enzim.
  7. Pada tumbuhan layu sebagian besar stomatanya tertutup dan tidak dapat mengimbangi laju kehilangan air sehingga turgiditas jaringannya akan menurun dan menimbulkan kelayuan.

Saran

Pada setiap akan melakukan praktikum, sebaiknya asisten menyediakan lembar kerja pada masing-masing kelompok. Hal ini dapat mempermudah praktikan dalam menyelesaikan tugas praktikum dengan baik dan juga dapat mengefisiensikan waktu.  Selain itu pada saat praktikum tertentu, cara kerja dan bahan yang akan digunakan pada saat praktikum tidak sama antara buku panduan praktikum dan kegiatan praktikum. Sehingga dengan adanya lembar kerja tersebut dapat meminimalkan kesalahan atau masalah-masalah yang terdapat pada saat praktikum. Untuk hal yang lain-lain asisten telah melaksanakan tugasnya dengan baik.

5.1.3. Pengenalan Jasat Pengganggu Tanaman

  1. Gejala atau Tanda Tanaman Terserang Hama dan Patogen

Dari hasil praktikum dapat disimpulkan bahwa gejala serangan hama belalang menyerang bagian daun dengan mengigit dan merobek dari tanaman dengan kerusakan 50% sedangkan hama ulat hanya dengan gejala serangan memakan daun dari tepi dengan kerusakan 5% dan Pathogen dengan tanda gejala serang adalah bintik-bintik hitam pada hampir setiap bagian tumbuhan ada dengan kerusakan 70%.

  1. Hama Gejala atau Tanda Tanaman Terserang

Dari hasil praktikum dengan sampel tanaman bayam dapat disimpulkan bahwa kebanyakan Hama yang menyerang adalah belalang, ulat dan walang sangit dengan gejala berbeda-beda. Belelang dengan menusuk merobek, ulat dengan memakan dari tepi dan walang sangit menghisap nektar dari bakal biji.

  1. Pemantauan Ekosistem dan Sebaran Populasi Hama

Dari hasil praktikum dilapang dapat disimpulkan bahwa terdapat banyak hama pada ekosistem yang diamati. Dari banyaknya populasi hama dalam ekosistem tersebut terdapat sebaran hama yang berbeda-beda dalam tiap petakannya hal ini disebabkan oleh tanaman inang yang dihinggapi sudah berkurang sehingga terjadinya perpindahan hama dari petakan satu ke petakan yang lain.

  1. Epidemiologi pada tanaman

Dari hasil praktikum dapat disimpulkan bahwa ledakan pennyakit dari hari kehari mengalami peningkatan hal ini disebabkab karena pengaruh kelembaban udara, kondisi alam dan hama yang membawa penyakit tersebut.

Saran pada praktikum ini yaitu akan lebih baik lagi apabila dalam satu kelompok diberi satu asisten, dan apabila memberi tugas harus yang jelas agar semua praktikan tidak kebingungan dalam mencari bahan. Akan lebih baik lagi apabila pada saat praktikum semua bahan disediakan oleh pihak lab, karena mengaca pada praktikum lainnya bahwa praktikan sudah difasilitasi oleh pihak lab baik dari segi alat maupun bahannya.

DAFTAR PUSTAKA

 

Ahmad. 2009.  Fisiologi Tanamanwww.faperta.ugm.ac.id.  Diakses pada tanggal 20 Desember 2013.

Bagus,1991. KTK Tanah. Fakultas Pertanian. Lampung.

Craig, Houston. 1991. Kapilaritas Air (Ilmu Tanah). Gajah Mada University Press, Yogyakarta.

Dalimunthe A. 2004Stomata Peranannya Dalam Metabolisme.  http://library.usu.ac.id. Diakses tanggal 20 Desember 2013

Dartius, 1991.  Pengangkutan Pada Tumbuhanhttp://dara9.files.wordpress.com. Di akses pada tanggal 20 Desember 2013

Dokuchaev, 1870. Propreties and Management of soil in the tropics. John Willey. Inc. 411p. (www.ditamegas08.student.ipb.ac.id) Diakses pada tanggal 22 Desember 2013.

Fitten, M. 1998. Diffusion science. URK. Di akses tanggal 22 Desember 2013

Frack and cleon. 1995. Fisiologi tumbuhan. Bandung. ITB.

Hadi Utomo, w. 1992. Dasar-dasar Fisika Tanah. Jurusan Tanah Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya : Malang

Hakim, Nurhajati dkk, 1986, Dasar-dasar Ilmu Tanah, Universitas Negeri Lampung, Lampung.

Hakim. N, Yusuf Nyakpa, A. M Lubis, S. G. Nugroho, Rusdi Saul, Amin Diha, Go Bang Hong, H. H. Bailey, 1986. Dasar-dasar Ilmu Tanah. Universitas Lampung, Lampung.

Heddy, S.,  2000.   Hormon Tumbuhan.  Rajawali, Jakarta.

Idiyah, S. 2013. Modul praktikum terpadu agroteknologi. Umm – press. Malang

Irsal, 2006. Sifat Fisik Tanah dan Metode Analisisnya. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian.

Madjid, A. 2009. Dasar – Dasar Ilmu Tanah. (www.dasar2ilmutanah.blogspot.com) Diakses pada tanggal 22 Desember 2013.

Misbah.2007. Proses Transpirasi. ITB. Bandung.

Mustamidin, 2011. Dasar-dasar Ilmu Tanah. Universitas Negeri Jember.

Saifudin,2009.Proses Osmosis. Penebar Swadaya. Bogor

Saktiono, 1989. Biologi Umum. Jakarta: Gramedia.

Salisbury, D., 1995.  Fisiologi Tumbuhan jilid 1 edisi IV.  ITB,  Bandung.

Sarwono, 2010. Ilmu Tanah. Pressindo, Jakarta. (www.volsky-silalahi.blogspot.com) Diakses pada tanggal 22 Desember 2013.

Soepraptohardjo, M. dkk. 1983. Pedoman Pengmatan Tanah di Lapang. Lembaga Penelitian   Tanah, Departemen Pertanian. Bogor. (www.pawanbagus.blogspot.com) Diakses pada tanggal 22 Desember 2013.

Sujino,2013.Hama. Universitas Lampung, Lampung.

Sumarji,2006.Ekosiste Alam. (www.idekusemua.com) Diakses pada tanggal 22 Desember 2013.

Uwie, 2010. Difusi-Osmosis dan Plasmolisis. (www.e-dukasi.net) Diakses pada tanggal 22 Desember 2013.

Wahyudi,2009. Resistensi difusi Gas. Gajah Mada University Press, Yogyakarta.

Winarti, 1991. DIT. (www.unpadkuliahku.com) Diakses pada tanggal 22 Desember 2013.

LAMPIRAN

 

Dasar Ilmu Tanah

Gambar 3. Pengamatan sifat fisik tanah.

Gambar 2. Pengamatan sifat biologi tanah.

Gambar 1. Pengamatan morfologi ranah dilapang.

                            

 

 

Fisiologi Tumbuhan

Gambar 6. Fotosintesis dan klorofil.

Gambar 5. Resistensi Difusi Gas dan Transpirasi

Gambar 4. Proses difusi-osmosis.

                   

 

 

Pengenalan Jasad Pengganggu Tanaman

Gambar 9. Bakteri pathogen yang menyerang batang tanaman bayam.

Gambar 8. Hama walang sangit yang menyerang tanaman.

Gambar 7. Belalang pada tanaman.

                           

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s